'Mati Ketawa Cara Politikus Indonesia' Sajikan Stand Up Comedy dan Dagelan

'Mati Ketawa Cara Politikus Indonesia' Sajikan Stand Up Comedy dan Dagelan

- detikHot
Rabu, 03 Des 2014 12:26 WIB
Mati Ketawa Cara Politikus Indonesia Sajikan Stand Up Comedy dan Dagelan
Jakarta - Seniman Butet Kartaredjasa dan Agus Noor kembali menyuguhkan karya terbaru mereka dalam pementasan bertajuk 'Mati Ketawa Cara Politikus Indonesia' pada 5 Desember mendatang di Graha Bakti Budaya, TIM. Pertunjukan kali ini dipadukan dalam dua bentuk yakni stand up comedy dan dagelan.

Empat pelawak akan tampil di atas panggung. Mereka adalah Sammy dan Mongol yang merupakan dua comic terkenal yang memiliki karakter kuat. Dua lagi dari panggung lawak tradisional yakni Susilo dan Marwoto.

"Menghadirkan dan mempertemukan keempat komedian di panggung pementasan jadi tantangan tersendiri," ungkap sutradara Agus Noor dalam penyataan yang disiarkan, Rabu (2/12/2014).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Masing-masing akan tampil secara tunggal dalam stand up comedy. Tapi, keempatnya akan membawakan peran yang saling berkaitan dan membangun alur cerita. Para komika yang tidak terbiasa bermain dalam satu alur cerita, akan mendapatkan pengalaman memainkan satu peran tapi tidak menghilangkan kekhasan dan gaya mereka yang otentik.

Sementara para komedian seperti Marwoto dan Susilo yang terbiasa membawakan peran dan cerita, ditantang untuk tampil tunggal, dan mengeluarkan semua keterampilan mereka sebagai komedian. "Semoga mereka bisa saling belajar dan memahami, karena bagaimana mereka bertemu dan berproses, kemudian saling berbagi ide, menjadi yang kami harapkan dalam proses ini," ujar Agus.

'Mati Ketawa Cara Politikus Indonesia' mengisahkan tentang seorang politikus yang mendadak sakit saat terkena kasus korupsi. Ia merasa rumah sakit adalah tempat terbaik untuk menyelamatkan diri. Seorang koleganya menjenguk, dan mendukung politikus yang sedang bermasalah itu.

Ada dokter yang merawatnya, juga pasien lain yang menyaksikan semua kisah itu: politikus yang pura-pura sakit itu mendapat perlakuan istimewa, sementara dirinya yang benar-benar sakit malah diabaikan.

Cerita tersebut menjadi dasar bagi keempat komedian untuk saling berinteraksi. "Ini seperti satu peristiwa atau satu kisah yang dilihat dari empat sudut pandang pencerita yang berbeda. Satu teknik penceritaan yang sebenarnya kerap dipakai sebagai teknik bercerita dalam sastra. Sudut pandang yang berbeda, akan memunculkan opini yang berbeda. Dari sanalah kelucuan-kelucuan akan muncul," tutur Agus Noor.



(tia/mmu)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads