Pertunjukkan ini digelar di dua tempat yakni auditorium School of Social Siences, Universitas Jawaharlal Nehru pada 26 November dan Indian Council for Cultural Relations, New Delhi pada 29 November lalu. Dengan gaya mendalang khas Sujiwo Tejo, ia mampu menimbulkan kelucuan bagi para penonton.
Melalui cerita epik Ramayana, para penonton diajak untuk memahami kisah dari sudut pandang Kumbhakarna yang berupaya menghentikan terjadinya perang antara Rama dan Rahwana akibat kisah cinta segitiga. Cinta tersebut terjadi pada Rama, Shinta, dan Rahwana. Bagi masyarakat India, kisah ini memberikan pendekatan baru dalam memahami epik Ramayana, yang biasanya hanya menceritakan kisah cinta Rama dan Shinta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari seni pertunjukkan wayang Ramayana ini, kata dia, dapat memberikan inspirasi bagi para penonton agar saling melestarikan kisah epik Ramayana.
Pertunjukkan wayang yang diiringi oleh alunan musik gamelan dari Darma Wanita Persatuan KBRI New Delhi merupakan yang pertama kalinya digelar. Berbagai pihak ikut mendukung di antaranya KBRI New Delhi dengan Indian Council for Cultural Relations, Centre for Chinese and Southeast Asian Studies dan Universitas Jawaharlal Nehru.
Usai pertunjukkan, pria yang dikenal dengan sebutan Mbah Jancuk ini juga menggelar diskusi interaktif bersama sivitas akademika Universitas Jawaharlal Nehru. Pembahasannya membicarakan mengenai perspektif dalang terhadap cerita Ramayanan, keunikan lakon wayang, keunikan permainan gamelan, hingga dampak budaya wayang bagi hubungan bilateral Indonesia-India.
"Kami berharap agar makin banyak masyarakat India dapat menjadi sahabat Indonesia, dan sebaliknya," ucap Rizali.
(tia/dal)











































