Saat itu, ia sedang ditugaskan ke Padang, Sumatera Barat (Sumbar). Menjelang subuh, istrinya menelepon. "Ayah, ini banjir. Kayak tsunami, yah. Gede banget," kenang Kak Seto.
Tadinya ia mengira banjir yang dimaksud istrinya Deviana Mulyadi seperti banjir tahunan akibat meluapnya Sungai Pesanggrahan, Jakarta Selatan. Namun ternyata peristiwanya lebih besar.
"Saya ingat kami tinggal di hotel selama 3,5 bulan. Lumpur di mana-mana dan banyak barang yang hilang karena hanyut," ungkapnya.

Pengalaman mengenai banjir tahunan juga kerap kali menimpa keluarga Kak Seto. Dari banjir besar Jakarta di tahun 2002, 2006 hingga yang terbesar adalah Situ Gintung. "Saya nggak menyangka kalau tanggul segede itu jebol dan sampai ke rumah kami, karena kan kalau dipikir jauh."
Meski sudah tinggal puluhan tahun di lahan seluas 2000 meter persegi itu, keluarga Kak Seto tetap tidak ingin pindah. Mereka mengaku nyaman dan sudah merasa daerahnya sebagai kampung halaman.
"Dulunya pas masih kecil mau pindah sampai nangis-nangis. Tapi sekarang ya udahlah dinikmati. Nggak pingin pindah juga dari Cirendeu," ungkap Dhea Seto.
(tia/ron)











































