Sejak 2010 lalu, IDRF telah berlangsung di berbagai kota. Seperti di Yogyakarta, Semarang, Bandung, Jakarta, dan Lampung. Festival ini merupakan ajang untuk bertemu, berdiskusi, dan mengenalkan naskah lakon terbaru.
"Sejak awal IDRF berdiri diniatkan menjadi ruang untuk memperkenalkan lakon-lakon lama dan baru, lokal dan asing melalui jalan pembacaan dramatik," ujar penata program IDRF Gunawan Maryanto kepada detikHOT Kamis (30/10/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Keterbatasan itu menjadi salah sebab kenapa penulis lakon hari ini tidak sebanyak dan tidak seproduktif dekade-dekade sebelumnya," ungkapnya.
Para penulis lakon masa kini adalah mereka yang dekat dan berkecimpung langsung di dunia teater. "Untuk itu IDRF hadir. Mengenalkan lakon-lakon berbahasa Indonesia."
Sepanjang lima tahun penyelenggaran IDRF, sejumlah kelompok teater dengan sukarela terlibat di panggung IDRF. Di antaranya Teater Koma, Teater Tetas, Teater Kami, Lab Teater Sahid, Studiklub Teater Bandung, Mainteater, Teater Gidag-Gidig, Teater Gandrik, Teater Garasi, Teater Gardanalla, Saturday Acting Course, Acapella Mataraman, Teater Satu Lampung, Komunitas Berkat Yakin, dan lain-lain.
Simak informasi tentang IDRF 2014 di artikel berikutnya. Jangan sampai terlewat!
(tia/mmu)











































