Tiga buah batu berwarna putih dengan skala raksasa menyapa pengunjung di ruangan Galeri Nasional, Jakarta. Di belakangnya terdapat kertas kayu dengan simbol benda gunting terlihat di sana. Karya 'Batu Gunting Kertas' buatan S.Teddy menjadi patung tiga dimensi yang pertama dilihat saat malam pembukaan Trienal Seni Patung Indonesia #2 semalam.
Memasuki ke ruangan berikutnya, para pengunjung dapat melihat andong yang diisi oleh baju-baju tak terpakai dengan patung kuda yang terlihat bagian belakang. 'Still Shy #02' karya Eddi Prabandon menyimbolkan pepatah 'menutupi mukanya membiarkan pantatnya'.
Kedua karya tersebut menjadi bagian dari pestanya 53 perupa dalam Trineal Seni Patung Indonesia #2 yang digelar 22 Oktober hingga 10 November mendatang. Pameran tiga tahunan ini sebelumnya pernah digelar perdana pada 2011 lalu dengan tema 'Ekspansi'.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Salah satu kurator Asikin Hasan dalam pembukaannya mengatakan nasib seni patung belum sebaik seni lukis di Indonesia. "Bienal seni patung pernah diadakah tahun 1986 sampai 1998. Lalu terhenti, tiga tahun lalu kami coba adakan kembali," katanya, Rabu (22/10/2014).
Selama satu dekade belakangan, seni patung mengalami migrasi dari tiga dimensi menjadi trimatra. Kali ini, pameran ini mengusung tema 'Versi' yang digagas oleh tim kurator Rizki A Zaelani, Asmudjo J.Irianto, Asikin Hasan dan asisten kurator Bayu Genia Krisbie.
Istilah 'Versi' diangkat dari teorisasi dua arus besar dalam seni patung yaitu menghormati seni tradisi yang bersifat manual dan teknis, serta berkarya dengan metode eksperimental.
Sebanyak 53 perupa patung ternama Indonesia ikut berpartisipasi. Di antaranya, Sunaryo, Nyoman Nuarta, Dolorosa Sinaga, Anusapati, Entang Wiharso, Noor Ibrahim, S.Teddy, Iriantie Karnaya, Gabriel Aris, Valasara, Pande Wayan Mataram, dan lain-lain.
Setelah pembukaan pameran oleh Direktur Jenderal Kebudayaan Kacung Marijan semalam, seminar 'Gelagat Perkembangan Seni Patung Indonesia Kini' digelar siang ini. Seminar ini menghadirkan narasumber Rizki A Zaelani (kurator), Asikin Hasan (kurator), Handiwirman (perupa patung), dan S. Garibaldi (perupa patung), serta perupa Asmudjo J.Irianto sebagai moderator.
(tia/mmu)











































