Ya, ide cerita yang diadaptasi dari naskah Oscar Wilde dengan judul asli 'Lady Windermere's Fan' dan ditulis tahun 1892 tersebut akan dipentaskan akhir bulan ini di GKJ Jakarta Pusat. "Cerita ini masih relevan di masa sekarang," ungkap produser pentas Maria Pade kepada detikHOT di Balai Kesenian Jakarta Pusat, Jumat lalu (3/10/2014).
Pementasan yang berjudul 'Kipas Tanda Mata' tersebut menceritakan mengenai rumah tangga pasangan Tuan dan Nyonya Singgih. Ketika Nyonya Singgih akan berulang tahun, Nyonya Surya hadir menjadi sosok sosialita yang rupawan dan misterius.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Singkatnya cerita fenomena sosialita itu berjalan selama dua jam namun secara ringkas kami pentaskan dua jam," tutur Maria.
Teater yang didirikan sejak 1994 oleh psikolog Ratim Ibrahim dan Kepala Sekolah SMA Santa Ursula tahun 1994 Sr Francesco tersebut juga akan memakai para pemain wanita. "Yang karakter pria itu wanita. Memang dari awal berdiri, selalu semuanya wanita."
Ketiga pemain utama adalah Tuan Singgih (Stevanie Claudia), Nyonya Singgih (Amanda Purnamasari), dan Nyonya Surya (Sionita Simbolon). Mereka berasal dari generasi yang berbeda-beda.
"Peran kunci saat pesta ulang tahun di mereka," tambahnya. Sedangkan 'kipas' merupakan simbol dari intrik para sosialita dalam lakon tersebut.
Penasaran seperti apa pementasan 'Kipas Tanda Mata'? Pentas ini digelar tiga kali pertunjukan di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) pada 31 Oktober dan 2 November 2014 mendatang.
Tiketnya dibandrol menjadi beberapa kelas, yakni VIP Rp 500 ribu, kelas 1 Rp 300 ribu, kelas 2 Rp 200 ribu, dan kelas 3 Rp 100 ribu. Jangan sampai terlewat!
(tia/mmu)











































