Pameran yang bertajuk 'Ayatana' tersebut digelar di Grand Hotel Kemang, Jakarta Selatan. Sebanyak 34 seniman dari berbagai kota di Indonesia ikut berpartisipasi memeriahkannya.
Ingin tahu seperti apa? Berikut karya seni yang bertebaran di setiap sudut hotel:
Di depan hotel
|
|
Eko membawa fantasinya dan karakter yang tidak terduga dalam ranah sosial-politik. Baginya imajinasi dan realitas di dunia politik kerap berubah. Dengan teknik mural dan lukisan di panel depan hotel ini membuatnya terasa unik.
Mural di Dinding Hotel
|
|
Tutu lahir di tahun 1970 dan tinggal di Jakarta. Ia memulai grafitinya pada 2000. Tutu mengeksplorasi gaya letter dan mengkombinasikannya dengan elemen yang tidak pernah ada dalam dunia grafiti. Eksperimennya mendapatkan gaya yang unik dan sudah tersebar ke seluruh kota di Indonesia.
Ruang Penyimpanan Wine
|
|
Selain itu, pria yang mempunyai nama lengkap Narpati Awangga ini di ICAD 2014 juga membuat instalasi yang berjuful 'Spreadskel'. Ia menyebarkan objek pixel-art yang terdiri dari tengkorak-tengkorak berukuran mini. Ia menginginkan konsep yang horor menjadi lebih menyenangkan dan keren.
Lobi Hotel
|
|
Yasser adalah dosen desain grafis di Universitas Bina Nusantara (Binus). Ia sering memberikan kuliah tentang seni, desain, tipografi, visual, dan branding. Itu yang menjadikannya salah satu seniman visual ternama di Indonesia.
Galeri Hotel
|
|
Jompet adalah seniman yang belajar ilmu komunikasi di Universitas Gajah Mada Yogyakarta. Setelah bergabung di Teater Garasi, Jompet beralih menjadi komponis musik. Teater Garasi adalah salah satu teater yang berkontribusi dalam teater kontemporer di Indonesia. Di tahun 2008, Jompet membuat proyek 'Java's Machine' yang membuatnya diundang di Yokohama Triennale (2009), Lyon Biennale (2009), Moscow Biennale for Young Art (2012), Taipei Biennale (2012), dan lain-lain.
Halaman 2 dari 6











































