Di sisi lain panggung, tiga wanita mengangkat kurungan bambu. Mereka mendorong, membanting, lalu masuk ke dalamnya. "Waktu... manusia...kala. Waktu...manusia...karang. Waktu..manusia..sekarang," teriak mereka berulang-ulang.
Ketiganya masuk kembali ke kurungan. Tubuh mereka seperti terikat dan tak bisa keluar. Terkungkung erat. "Sampai pada harinya datang. Pria itu datang dalam kegelapan. Aku terlempar dalam kebingungan, terperangkap dalam labirin," ucap wanita yang memanggul bakul kosong.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lakon ini disutradarai oleh Dadang Badoet dan pimpinan produksi Ratu Selvi Agnesia, menceritakan tentang persoalan waktu atau 'Kala', bersama tubuh dan jiwa manusia yang terpecah. Kala adalah linier yang terus berputar, bergerak dan mempunyai dimensi yang berbeda.

Kala juga menyoal tubuh yang seolah diperbudak oleh waktu. "Relief dan teks kisah hidup manusia menempel di dinding-dinding waktu dan mudah terhapus oleh ingatan," katanya.
Panggung 'Relief Tanpa Dinding' juga menghadirkan latar atau setting tempat yang tak terbatas untuk menciptakan rasa tembus ruang dan waktu. Bambu menjadi elemen artistik yang utama bagi para pemain dan simbol itu sendiri.
Pementasan yang disiapkan selama delapan bulan ini terpilih sebagai peraih Hibah Seni Kelola untuk kategori Karya Inovatif 2014. Para pemain yang membawakannya pun mampu dengan apik berakting. Mereka adalah Yohana Gabe (Kalapra), Clara Putri (Kalakini), Lina Erent (Kalausang), dan Pemila.
Sebelumnya Stage Corner Community mendapatkan penghargaan serupa dalam lakon berjudul 'Techno Ken Dedes' tahun 2011 lalu. Komunitas pojok panggung ini merupakan kelompok yang bergerak di bidang teater, musik, tari, dan rupa.
(tia/mmu)











































