Empat Keasyikan Ngopi di Pasar

Sensasi <i>Ngopi</i> di Pasar

Empat Keasyikan Ngopi di Pasar

- detikHot
Rabu, 20 Agu 2014 14:55 WIB
Empat Keasyikan Ngopi di Pasar
Dok.ABCD Coffee
Jakarta - Di desa-desa dan juga kota-kota kecil, 'aktivitas' ngopi di pasar tentu bukanlah sesuatu yang istimewa. Namun, beda cerita bila hal itu terjadi di megapolitan macam Jakarta. Tak hanya menjadi sesuatu yang "baru", hal itu kini bahkan tengah nge-tren. Memangnya apa sih asyiknya ngopi di pasar?

Kios kopi yang bernama ABCD Coffee di lantai dua Pasar Santa Jakarta Selatan menjadi pelopor yang menghidupkan kembali ngopi di pasar di kota besar. Berikut detikHOT merangkumkan untuk Anda empat keasyikannya:

Tren Gaya Nongkrong Terbaru

Kios ABCD Coffee tidak diketahui kapan jadwal buka dan tutupnya. Di hari Senin-Jumat, kios ini biasa digunakan sebagai lokasi belajar barista. Nah, di weekend banyak anak muda dari penjuru Jakarta yang mengunjunginya hanya untuk mendapatkan sensasi ngopi yang berbeda.

"Saya ke sini buat cobain kopi buatan barista ABCD Coffee, enggak cari tongkrongan yang ada wifi, ber-AC, atau enak," ungkap Retno kepada detikHOT kemarin.

Tiap Minggu Terdapat Kopi yang Berbeda

Pendiri ABCD Coffee Hendri Kurniawan mengatakan jika setiap minggunya akan selalu disediakan biji kopi internasional maupun nasional yang berbeda kepada para pelanggannya. Di kiosnya juga terdapat kopi Panama Geisha yang harganya terbilang mahal.

Interaksi Barista dan Pelanggan

Hanya di beberapa kafe maupun kedai kopi tertentu di ibukota yang menawarkan konsep dapur terbuka. Padahal jika pelanggan yang datang bisa berinteraksi dengan barista, akan muncul komunikasi yang baik.

"Kami ingin mengedukasi ke masyarakat apa itu kopi, kualitasnya seperti apa. Ketika mereka tanya, kita jawab dan jelaskan cara pembuatannya. Ini yang membuat profesi barista dihargai," ungkap Ve Handojo.

Membayar Sesuai Harga yang Diinginkan

Secangkirnya kopi di ABCD Coffee dihargai sesuai dengan nominal yang diinginkan oleh pelanggan. "Pesan apa yang dimau, rasakan dulu kopinya baru bayar di kaleng merah," ungkap Hendri.

Dengan istilah 'pay as you like it' akan memberikan kesan menghargai kualitas kopi dan profesi barista itu sendiri. "Kalau enggak suka ya sudah tidak apa-apa. Kopi kan juga soal selera," katanya.
Halaman 2 dari 5
(tia/mmu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads