Dari Kolong Jembatan Jatinegara, Penari Ini Akan Pentaskan 'Tarung Batin' di TIM

Dari Kolong Jembatan Jatinegara, Penari Ini Akan Pentaskan 'Tarung Batin' di TIM

- detikHot
Selasa, 24 Jun 2014 18:20 WIB
Dari Kolong Jembatan Jatinegara, Penari Ini Akan Pentaskan Tarung Batin di TIM
Dok.Tia Agnes/ detikHOT
Jakarta - Demi menyelesaikan studi master di jurusan seni tari IKJ, Rosmala Sari Dewi rela belajar dan ikut menari di kolong jembatan Jatinegara. Tarian yang diberi judul 'Tarung Batin' itu akan dipentaskan di acara 'Bluzuggan Bloes Betawi' pada 26 Juni mendatang.

Pentas ini merupakan salah satu kolaborasi dari 350 seniman kampus dan kampung yang akan menghadiri perayaan HUT Jakarta ke-487 tersebut di depan Teater Jakarta, TIM. Rosmala akan menari bersama 11 penari lainnya.

Wanita yang akrab disapa Mala itu menceritakan bahwa dirinya terinspirasi dari para penari tradisi di kawasan Jatinegara. "Mereka menari di kolong jembatan, ke kampung-kampung, stasiun, pasar, dan tempat lainnya tanpa lelah," ujarnya kepada detikHOT usai jumpa pers di TIM, Selasa (24/6/2014).

Sebelumnya karya tarinya ini adalah ujian akhir Penciptaan Pasca Sarjana IKJ Program Studi Seni Urban dan Industri Budaya yang dipentaskan di Teater Kebon STSI Bandung Jawa Barat dua tahun lalu.

"Saya mencari-cari penari Teh Iin yang terkenal di Jatinegara. Setiap sanggar tari tradisi saya datangi," tutur wanita yang mempunyai studio Nyi Ronggeng di Depok dan Gandung Dance Studio di Bandung.

Selama dua bulan Mala mengikuti aktivitas menari dan kehidupan dari Teh Iin. Ia pun sempat tinggal di kontrakan sempitnya. Sampai harus menari di Stasiun Manggarai.

"Saya juga ngamen dan nari di pinggir jalan, gimana dicibirnya saya sebagai penari Jaipong jalanan. Ada stigma negatif dari masyarakat," ungkapnya. Bahkan Mala juga merasakan mendapatkan uang saweran hanya Rp 35 ribu sampai Rp 50 ribu per harinya.

Mala merupakan salah satu penari tradisi yang sudah melalang buana ke tingkat internasional. Lulusan STSI Bandung angkatan 2005 ini pernah mengenyam pendidikan singkat tari kontemporer di New York.

Sejak tahun 2008 silam, ia sudah menari di panggung-panggung dunia. Dari Australia, Taiwan, Jepang, Turki, Eropa, Cina, Singapura, Malaysia, hingga ke London. Di usianya yang masih tergolong muda, Mala juga pernah mengajar di Institut Musik Daya Indonesia (IMDI) dan IKJ jurusan seni tari.

Di usianya yang ke-28 tahun nanti, Mala berencana akan menari tunggal di Graha Bakti Budaya pada September mendatang. "Seperti kaledoskop kiprah saya menari selama 20 tahun. Karena saya menari juga penuh perjuangan, hanya didukung oleh ibu," ungkapnya.



(tia/mmu)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads