Bayi itu dijadikan anak Ki Lembong dan dinamakan Ranggah. Tapi karena nakal ia disebut Ken Arok. Kelahiran Ken Arok ini penting dalam sejarah Kerajaan Singosari karena ia yang nantinya membunuh Tunggul Ametung dan jatuh cinta kepada Ken Dedes.
Kisah dalam lakon ini tak hanya melulu soal Ken Arok dan Ken Dedes, dalam babak awal diceritakan sebuah perebutan kekuasaan. Raja Jenggala Prabu Hemawangsa dikalahkan oleh Prabu Mapanji Jajabaya Raja Kediri. Serta Kediri dilawan lagi Raja Sry Jayamerta hingga ia bersembunyi di Pertapaan Argowilis.
Baru di babak pertama saja lakon yang dibawakan oleh para bankir dari dunia perbankan, pemimpin media massa, senior editor dan para pemain dari Yayasan Adhi Budaya mampu mengocok perut dan mengundang gelak tawa.
Seperti saat pemain wanita membawa tongkat narsis (tongsis) yang sedang menjadi tren ke atas panggung. "Kita harus eksis pak, ayo foto dulu," ujar pemeran wanita yang memakai kebaya itu.
Sontak para penonton tertawa dengan tingkahnya. Bahkan banyak dialog dari babak pertama hingga terakhir yang lupa diucapkan.
"Jadi raja, kok lali kabeh (lupa semua) dialognya," kata salah satu pemain menyindir tokoh raja.
Berbagai istilah ekonomi yang dijadikan candaan pun banyak masuk ke dalam dialog. Seperti ketika putri-putri dari Brahmanaraja akan dipersunting. Mereka mengajukan syarat bahwa calon suaminya harus melewati fit and propest test, rumah tidak ada lagi KPR, kartu kredit limitnya harus Rp 300 juta, dan lain-lain.
Kealpaan dialog dan akting ketoprak para pemain dimaklumi oleh sutradara sekaligus pemimpin Adhi Budaya, Aries Mukadi. "Sampai tadi sebelum naik panggung masih banyak yang megang naskah dan menghapalnya," ujarnya kepada detikHOT usai pentas.
Namun tingkah lucu mereka dikolaborasikan oleh para pemain ketoprak yang sudah berpengalaman. Pementasan ke-45 yang bergulir selama hampir 3,5 jam ini merupakan pentas amal bagi para pecinta kesenian tradisional.
Diharapkan, kata Aries, banyak saweran agar ketorprak akan terus eksis di Indonesia. "Kesenian ini sudah ada dari pertengahan abad ke-18, kalau punah sangat disayangkan sekali," katanya.
(tia/ich)











































