Tak ada cara yang bisa mencegahnya. Sindikat ini pun terstruktur. Bagi kolektor seni rupa, Deddy Kusuma ada satu cara untuk mencegah makin merajalelanya lukisan palsu yakni dengan bukti sertifikasi.
"Bukti otentik ini yang mengeluarkannya dari si pelukis masih hidup atau keluarganya keturunannya langsung," katanya kepada detikHOT di Galeri Nasional (Galnas), beberapa waktu lalu.
Di atas selembar sertifikat tersebut, tentunya harus dibubuhi tanda tangan pelukis. Serta pernyataan bahwa karya tersebut benar dilukis olehnya.
Sampai sekarang ini, baru ada dua pelukis yang melakukan cara ini. Pertama, Srihadi Sudarsono yang terkenal akan detail dan perfeksionisnya. Jika meragukan karyanya, silakan datangi ke kediamannya.
"Ia masih ingat apakah lukisan itu benar buatannya atau bukan. Dia juga selalu memotret tiap kali membuat karya dan menyimpan dokumentasinya," katanya.
Meski dalam proses pembuatan sertifikat, tapi pelukus Srihadi adalah salah satu contoh seniman yang peduli dengan isu pemalsuan ini. Serta yang kedua adalah keluarga maestro pelukis, S.Sudjojono. Pihak keluarganya bersama Rose Pandanwangi, membuat yayasan S.Sudjojono Center.
Mereka sedang dalam proses pendokumentasian karya-karya dari mantan Ketua Persatuan Ahli-Ahli Gambar Indonesia (PERSAGI) hingga meninggal dunia di usia ke-72 tahun. Menurutnya, pembuatan yayasan ini salah satunya adalah karena salah satu lukisan S.Sudjojono yang menjadi koleksi OHD Museum diduga palsu.
"Mereka mencoba mencegah makin beredarnya lukisan Pak Djon yang dipalsukan. Ini salah satu cara juga dan patut dicontoh pelukis lainnya," jelas Deddy.
Sementara itu, Maya Sudjojono yang merupakan putri dari Sudjojono dan Rose Pandanwangi mengatakan keluarganya sangat peduli dengan karya-karya pelukis asli. "Kami juga enggak mau lukisan 'Sabda Alam' karya Bapak dipalsukan orang lain," ujarnya kepada detikHOT.
Ditambah lagi, lukisan tersebut menggambarkan potret ibundanya tanpa busana dan detilnya penjelasan dalam katalog.
(tia/mmu)











































