Isinya adalah sebuah ruangan yang terdiri laiknya ruang ramalan. Ketika pengunjung memasukinya, bacalah petunjuk terlebih dahulu. Lalu masuk ke dalam ruang bertirai putih. Di sana terdapat baskom berisi air.
Tengoklah ke arah dalam baskom. Wajah pengunjung akan nampak di sana. Tak berapa lama kemudian, sebuah teks akan terbaca di dalam baskom air tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salah satu anggota XXLabs, Asa Rahmana menjelaskan bahwa karya seni ini terinspirasi dari keingintahuan manusia terhadap masa depannya.
"Isu ini sudah lama dari awal adanya manusia. XXLABS tertarik menggunakan air sebagai medium untuk meramal dan terpengaruh tradisi Jawa," katanya kepada detikHOT akhir pekan lalu.
Air memiliki karakteristik reflektif dan mampu menangkap siluet wajah dari pengunjung, dan nantinya akan membaca teks ramalannya sendiri. Di mana rahasia dari pencampuran seni dan teknologi ini?
Asa menjelaskan jika kuncinya terletak pada piranti lunak dan keras yang bersifat open source. Namanya, arduino. Melalui software ini yang lalu dikirim ke processing dapat membaca apa yang dialami pengunjung.
"Ia akan menangkap tegangan listrik pengunjung. Data itu lari ke arduino. Lalu mengirimkannya ke komputer dan processing. Keluarlah teksnya," ujarnya.
XXLABS adalah grup seniman yang semua anggotanya adalah wanita. Latar belakang mereka adalah interdisiplin yang berbeda namun fokus kepada seni elektronik. Terbentuk tahun lalu di Yogyakarta, mereka telah menjalankan sejumlah workshop.
Mereka terdiri dari Asa Rahmana (penyanyi dan penulis lagu Belkastrelka), Fahla Fadillah (seniman dan pendiri ThedeoMIXBLOOD), Irene Agrivina (seniman dan pendiri HONF Foundation), Rennie 'Emonk' Agustine (seniman dan kurator ViaVia Jogja Alternative Art Space).
(tia/ich)











































