Tapi setidaknya pertanyaan ini langsung mencuat di kepala ketika mendengar penjelasan seorang seniman yang ikut berpameran di 'Swatata', Ismal Muntaha. Tampak ringan dan tanpa beban, ia menelurkan mitos untuk 'mengganggu' sebuah pemukiman kampung.
Namun jangan kuatir, karyanya tidak tampak serumit itu, justru ini banyak mengandung unsur iseng, coba-coba dan tentunya menjadi pengalaman yang menarik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Orang-orang suka drama, suka membumbui cerita," jelasnya kepada detikHOT Selasa (6/5/2014) di Ruang Rupa, Tebet, Jakarta Selatan.
Seperti yang telah dipaparkan dalam artikel sebelumnya, Ismal terinspirasi mengarang kisah hilangnya seekor rusa setelah melihat ada patung kepala rusa di atas meja daging yang berada di Pasar Darurat, Tebet. Seribu satu cara ia lakukan untuk membuat mitosnya tetap hangat dibicarakan.
"Saya minta tolong ke loper koran, untuk bantu sebar selebaran tentang rusa yang hilang." Ismal juga dibantu beberapa temannya untuk masuk ke kampung itu dan meniupkan isu-isu terkait rusa yang membuat mitos ini tetap hangat.
Setelahnya, ia bisa dibilang berhasil memprovokasi masyarakat tentang isu itu. Saat kembali datang ke kampung tersebut dan nyatanya mereka masih membicarakan rusa hilang.
"Orang jadi ada yang membuat versinya masing-masing, ada yang bilang rusanya dicuri. Ada yang memprediksi rusa yang dicuri itu rusa hamil, dan si pencuri ingin mengambil anak rusanya untuk dijadikan obat kuat," paparnya.
Ismal menyaksikan sendiri, bagaimana dalam sebuah obrolan informal, obrolan bisa mengalun begitu saja. Saut-menyaut walau tak saling kenal. Obrolan ini pun ia rekam dan dijadikan bagian dalam karya pameran 'Swatata'.
Tiap variabel kata, yang hangat merebak karena mitos hilangnya rusa divisualisasikan dalam pemajangan karya Ismal. Ada yang menganalisa si rusa diburu dengan dijerat tali, maka Ismal memampang seikat tali.
Ada yang bilang rusa itu ditembak, maka ia meletakan sebilah senapan, dan seterusnya. Dalam karya ini, Ismal menunjukan bahwa seni berlaku sebagai cara kerja, bukan sekedar pemasangan barang-barang yang dikreasikan dalam sebuah ruang saji karya di galeri.
Objek-objek yang ditampilkan pun kebanyakan adalah barang-barang koleksi maupun temuan. Penyebaran mitos ini dilakukan selama dua pekan.
"Dari pengalaman ini, saya melihat bahwa warga kota itu dibangun dengan impian-impian dari desanya. Karena mereka ketika berbagi cerita, sering membawa pengalamannya dulu di kampungnya. Tapi yang ada di desa justru dibangun dengan impian akan kota."
Ya, deskripsi atas wilayah desa dan kota ini memang sangat lekat dengan Ismal Muntaha, Arie Syarifuddin, dan dua dari tiga peserta di pameran ini. Tak lain karena mereka memang punya akar tentang kehidupan di desa dan sering membuat festival maupun proyek seni di tempat tinggalnya di Jatiwangi.
(ass/tia)











































