Kecenderungan psikologis bernama Oedipus kompleks. Pemilahan ego, id, superego dalam psikis manusia. Hampir semua karya tulis Sigmund Freud telah berikan banyak perubahan tentang bagaimana kita memandang perilaku manusia.
Penemu yang telah berkontribusi menelurkan pemikiran soal psikoanalisa ini memprakarsai sifat penulisan narasi dengan dirinya sendiri. Ini sekaligus membuka jalur baru dalam perkembangkan karakter literatur dengan motif yang melampaui kenyataan.
“Semua mimpi akan muncul sendirinya sebagai struktur psikologis, penuh dengan makna, dan salah satunya mungkin menunjukan tempat yang spesifik pada aktifitas fisik yang ada saat kondisi sadar," kata Sigmund Freud dalam bukunya The Interpretation of Dreams, yang terbit tahun 1899, dilansir dari BBC (2/05/2014).
Dari awal, karyanya terkait dengan literatur kanonik pada masa hidupnya. Ia menulis dengan ketertarikan pada karya Sophocles, Faust Goethe dan Shakespeare - terutama dalam karya Hamlet, King Lear, dan Macbeth.
Untuk menjelaskan pemahamannya tentang motivasi kondisi tidak sadar dan metafora yang kompleks juga perpindahan dari mimpi, ia banyak menuliskan studi kasusnya dengan pendekatan naratif.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk mulai memahami dampak yang ditorehkan oleh Sigmund Freud dalam dunia literatur hari ini, Jane Ciabattari melacak kesejajaran antara tulisan-tulisannya dan karya kontemporer sastranya.
***
"Saat aku membaca karya indahmu, aku terus mencari, ke dalam fiksi, ke proposisi yang sama, ketertarikan dan solusi yang jamak untukku, dalam pemikiranku," tulis Sigmund Freud kepada Arthur Schnitzler.
Pria ini, Arthur Schnitzler sama seperti Sigmund Freud, ia mempelajari ilmu neurologi di Wina, Austria. Dan ia juga akrab dengan karya Freud, The Interpretation of Dreams.
Schnitzler banyak menuliskan fiksi termasuk soal mimpi, simbol-simbol yang banyak digunakan Freud seperti gunung dan danau, juga model kesaradan yang dideskripsikan oleh Freud dalam studinya berjudul Hysteria sebagai asosiasi bebas.
Freud juga melakukan korespondensi dengan seorang penulis novel asal Austria, Stefan Zweig. Yang tercatat dalam esai biografinya tentang psikoanalisa tahun 1931.
"Dua puluh tahun lalu, gagasan Freud masih dianggap sebagai suatu hujatan yang sesat. Hari ini, hal itu berpijar bebas dan menemukan ekspresi dalam penggunaan bahasa sehari-hari."
Teori psikoanalisa Freud dan penekanan kesadaran telah membentuk karakter pada dekade konflik. Teorinya Oedipus kompleks mendasari banyak karya sastra, dari hubungan inses antara Paul Morel dan ibunya dalam novel karya DH Lawrence tahun 1913 hingga saat ini.
Karya Freud, yang memiliki latar trauma karena Perang Dunia I membawanya ke penulisan karya Beyond the Pleasure Principle, yang juga menginspirasi terbentuknya karakter Septimus Smith dalam buku yang ditulis oleh Virginia Woolf bertajuk Mrs Dalloway.
Seorang penyair modern, HD, juga terinspirasi Freud saat menuliskan bukunya tahun 1956, bertajuk Tribute to Freud. Ia menulis ini sebagai memoar perawatan psikoanalisa yang pernah ia jalani.
(ass/utw)










































