"Saya jatuh cinta pertama kali dengan lukisan-lukisannya," ujar ahli sejarah seni rupa ini kepada detikHOT di Museum Widayat, akhir pekan lalu.
Tak tanggung-tanggung selama beberapa hari, Helena menginap di kamar tamu museumnya. Ia menyaksikan langsung bagaimana Widayat beraktivitas melukis setiap pagi dan mengikutinya ke beberapa pameran.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, kualitas lukisannya didapatkan Widayat dari pengalaman berkiprah dalam dunia seni rupa selama 65 tahun ini. "Apa yang dia buat dalam tema flora fauna. Peran alam dan human being, jadi harmonisasi yang cantik."
Ia kembali bertemu dengan Widayat saat diminta hadir dalam peresmian galeri di museumnya. Kemudian, Widayat diajaknya ke Belanda untuk mengunjungi berbagai museum, galeri seni, termasuk studio pribadi Helena.
Di sana, Helena menceritakan Widayat sangat kagum dengan karya old master dari perupa Barat seperti Van Gogh, Rembrandt dan sebagainya. Setelah itu, ia mendengar Widayat wafat karena penyakit gula yang dideritanya sejak muda.
"Saya kembali ke sini, karena cinta dengan karyanya, dan menulis buku ini bersama dengan Pak Hong Djien. Saya ingin publik tahu kiprah Pak Widayat sebagai pelopor seni rupa modern Indonesia," katanya.
Gaya lukisan yang dikembangkan Widayat juga didapatkan dari kemampuan teknisnya. Teknik lapis bawah yang tebal memicu fantasinya. Lapisan bawah lukisannya hampir membentuk manusia, tanaman, hewan, topeng, patung, dan lain-lain.
Inspirasi tradisional Widayat, kata Helena, juga didapatkannya dari ragam seni tradisional seperti batik, wayang, patung primitif, dan topeng khas Indonesia. "Saya juga menyebutnya sebagai pelukis dekoratif murni, dan ada kekuatan magis dalam setiap karya lukisnya.'
(tia/utw)











































