Ini Wajah Wanita Penghasil Utama Devisa Negara

Ragam Kisah dalam Esei Foto Pameran Unfinished (8-Habis)

Ini Wajah Wanita Penghasil Utama Devisa Negara

- detikHot
Senin, 14 Apr 2014 15:59 WIB
Ini Wajah Wanita Penghasil Utama Devisa Negara
Dok.Astrid Septriana/ detikHOT
Jakarta -

Dalam empat frame foto yang dipampang pada dinding Galeri Antara, terdapat empat sorot mata yang nanar. Potret para perempuan ini mengantongi ekspresi wajah datar dan luka-luka di kulitnya.

Ini merupakan sosok para perempuan yang bekerja di luar negeri. Mereka berangkat dengan penuh harap dan pulang bersama luka fisik maupun mental. Esei foto ini adalah karya dari pria bernama Frannoto.

"Di sini saya ingin belajar sudut pengambilan yang berbeda soal buruh migran. Fokus saya di sini adalah pembantu rumah tangga," jelasnya kepada detikHOT Sabtu lalu (12/04/2014) di Galeri Antara, Pasar Baru.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pada sentuhan akhir esei foto ini, saya coba pilih teknis yang berbeda. Jarang orang membuat serial potret yang konseptual, dengan pencahayaan khusus dan mengeksplorasi luka yang tampak pada tubuh mereka."

Dalam mendekati narasumbernya, ia dibantu oleh beberapa lembaga yang bergerak pada bidang advokasi buruh migran indonesia. Seperti Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) dan International Organization for Migration (IOM).

Serta demi menyelesaikan proyek fotonya, Frannoto perlu bolak-balik ke wilayah Pantura, Jawa Barat selama empat bulan lamanya. "Di sini mencari orang-orangnya yang susah. Pendekatannya persuasif, minta izin juga ke keluarganya dan memeriksa apa datanya valid," jelasnya.

Empat sosok perempuan yang akhirnya menjadi esei foto Frannoto adalah Nafsa 33 tahun, Mainah 36 tahun, Wanikhah 31 tahun dan Darkonih 40 tahun. Mereka semua berasal dari desa berbeda yang ada di kawasan Indramayu, Jawa Barat.

Negeri tujuan mereka juga berbeda. Di antaranya di Arab Saudi, Kuwait, dan Malaysia. Frannoto juga menjelaskan kekerasan yang mereka alami juga beragam. Hal ini terbukti dari hasil luka yang beragam.

"Ada yang disayat-sayat, disulut rokok, dikurung hingga kekerasan seksual," jelasnya. Luka yang dialami para pengais devisa negara ini seolah tak menghentikan laju buruh migran untuk tetap mencari nafkah di negeri orang. Sekaligus tak sedikit dari mereka menjadi kaca bagi pemerintah yang seharusnya wajib menjaganya.

Biasanya, menurut penuturan Frannoto TKI yang mampu berhasil berangkat ke luar negeri dengan memakai uang hutang. Sayangnya meski menjadi penghasil devisa utama bagi Indonesia, tapi mereka butuh waktu tiga periode bolak balik agar bisa melunasi hutang dan membiayai keluarganya.

"Masalah TKI ini sudah ada lebih dari sepuluh tahun lalu. Orang tahu masalahnya tapi menjadi apatis," jelasnya.

(ass/utw)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads