Kisah kesendirian ini datang dari mantan pemain tim nasional bernama Thio Him Tjiang. Dokumentasi kakek berusia 85 tahun ini dipilih oleh Edi Ismail Daulay sebagai nyawa dalam proyek fotonya. Edi menceritakan bagaimana prestasi Thio Him Tjiang di masa mudanya dulu bersama klub sepakbola.
"Ia pemain sepakbola yang bersinar di era 1950-an. Sat itu ia bermain untuk tim nasional Indonesia. Ia salah satu atlet berprestasi hasil binaan Klub Union Makes Strenght (UMS)," jelasnya kepada detikHOT Sabtu (12/04/2014) di Galeri Antara, Pasar Baru.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Demikian Edi menjelaskan alasannya mengangkat kisah Thio Him Tjiang dalam esei fotonya. Kakek tua ini hidup di sepetak kamar yang dipinjamkan keponakannya, dengan luas 3 x 4 meter persegi, di kawasan Jalan Delima Raya, Tanjung Duren, Jakarta Barat.

Tujuan Edi mengangkat cerita ini untuk menunjukkan fakta bahwa di Indonesia, atlet-atlet yang telah habis masa baktinya tak lagi diperhatikan. "Ibarat permen karet, habis manis sepah dibuang," jelasnya.
Selama sekitar dua bulan, ia hadir dalam kehidupan mantan legenda pemain bola itu. Edi menjelaskan pendekatannya termasuk tidak terlalu sulit. Setiap kali mampir ke kamar Thio yang berada di garasi itu ia terbiasa membawakan makanan, mengobrol dan menyanyi bersama.
Sebelum sosok Edi hadir untuk mendokumentasikan hidupnya, Thio seringkali bicara atau bernyanyi sendiri untuk melepaskan jenuhnya. Hidup sendirian yang ia jalani ini sudah berlangsung selama 46 tahun.
Selepas masa gemilangnya sebagai pesebakbola, Thio tak mau menjadi seorang pelatih. Bahkan di usianya yang kini sudah senja, ia tak pernah bermimpi kembali ke lapangan.
"Karena tulang paha atas patah akibat jatuh dari sepeda," katanya. Karena hal ini, sosok tua Thio dihabiskan di atas sebuah kursi roda dan sebilah tongkat yang membantunya berjalan.
(ass/utw)











































