Memotret Dunia Bebas Ibu Kandung Pengidap Skizofrenia

Ragam Kisah dalam Esei Foto Pameran Unfinished (6)

Memotret Dunia Bebas Ibu Kandung Pengidap Skizofrenia

- detikHot
Senin, 14 Apr 2014 13:50 WIB
Memotret Dunia Bebas Ibu Kandung Pengidap Skizofrenia
Dok.Astrid Septriana/ detikHOT
Jakarta - Banyak orang yang menutup rapat latar belakang maupun persoalan yang terjadi di dalam lingkungan keluarganya. Ada banyak penyebabnya, bisa karena malu, bisa juga karena takut dihakimi begitu saja oleh masyarakat.

Namun ini tidak menggetarkan niat dari Dian Ardiahanni untuk mendokumentasikan sosok ibu kandungnya.

Dalam esei fotonya yang ikut memberikan warna pada pameran foto jurnalistik, Unfinshed di Galeri Antara, ia mempersembahkan karya bertajuk 'Dear Mama'.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Proyek fotonya ini berisi tujuh frame yang menegaskan kehidupan ibunya, yang mengidap skizofrenia sejak delapan tahun silam.

"Kalau kepikiran awalnya, mungkin karena ada banyak fotografer yang mengajarkan bahwa jika mau membuat esei foto, coba membuat dari yang paling dekat dengan kita. Selain itu foto yang benar-benar mengikuti satu pasien skizofrenia juga jarang ada," jelasnya kepada detikHOT (12/04/2014) di Galeri Antara, Pasar Baru.

Menurut perempuan berusia 22 tahun ini, kisah pasien skizofrenia seringkali digambarkan secara garis besarnya saja. "Biasanya saat mereka berada di sebuah penampungan atau rumah sakit. Jadi di sini gimana saya bisa menampilkan skizofrenia yang berbeda."



Ia mengaku sempat mengalami dilema dalam dirinya. Dia ingin mengungkap kisah tentang skizofrenia agar masyarakat mau lebih peka, tapi di sisi lain ada rasa malu yang hinggap karena sosok yang ia angkat adalah ibu kandungnya sendiri.

"Tapi lewat foto mindset saya berubah, karena saya melihat orang luar negeri itu bisa membuat esei foto yang dekat dengan lingkungannya," ujarnya.

Mahasiswi tingkat akhir ini juga menjelaskan bahwa skizofrenia itu merupakan salah satu penyakit, yang tidak bisa dihindari dan bisa datang kepada siapa saja. Ia mengaku melalui dunia fotojurnalistik, ada banyak perubahan dalam dirinya ketika memandang masalah yang lekat dengan kesehariannya.

"Dulu saya enggak tahu mama kena penyakit apa, dia suka bengong, kadang menghabiskan kopi hingga tiga gelas dan merokok lebih dari sebungkus sehari. Kalau lagi senang ia bisa berputar-putar girang."

Dian menjelaskan sang Ibu juga pernah berobat dan dirawat di tempat khusus. Perasaan Dian juga dulu seringkali kacau ketika melihat ibunya mengamuk atau membanting piring.

"Dulu kalau sedang seperti ini, saya sebisa mungkin masuk kamar, dengarkan musik sekeras mungkin atau menutup telinga dengan bantal. Mungkin karena makin dewasa, saya juga berpikir bahwa enggak bisa menghindari ini terus," jelasnya.

Mau sejauh apapun batasan yang terbentang, dengan semua kelebihan dan kekurangannya sosok ibu sangat penting dalam hidupnya. Akhirnya selama kurun waktu dua bulan, ia rajin mendokumentasikan perubahan dan perilaku sang ibu.

"Mengangkat kisah mama, supaya ini bisa dijadikan referensi juga bagi yang lain. Mengangkat soal skizofrenia juga untuk menunjukan bahwa jangan kekang mereka, penyakit ini tidak akan sembuh dengan dikekang."




(ass/utw)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads