Jeritan Warga Sinabung di Pengungsian, dalam Bidikan Kamera

Ragam Kisah dalam Esei Foto Pameran Unfinished (3)

Jeritan Warga Sinabung di Pengungsian, dalam Bidikan Kamera

- detikHot
Senin, 14 Apr 2014 11:20 WIB
Jeritan Warga Sinabung di Pengungsian, dalam Bidikan Kamera
(Astrid Septriana /detikHOT)
Jakarta - Salah satu peserta pameran yang menyajikan esei fotonya di Galeri Foto Jurnalistik Antara (GFJA), bertajuk 'Unfinished' adalah Agus Salim Pribadi Harap, atau akrab disapa Agsa.

Agsa adalah mahasiswa jurusan komunikasi di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah. Kepada detikHOT ia mengatakan berminat besar pada dunia foto jurnalistik.

"Setelah nonton film The Bang-Bang Club jadi terinspirasi dengan film ini. Lagi pula saya bukan tipe orang yang akan senang bekerja di depan komputer," jelasnya kepada detikHOT (12/04/2014) di Galeri Antara, Pasar Baru, Jakarta Pusat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dari proses belajar yang ia ikuti, Agsa memilih tema untuk menangkap wajah-wajah pengungsi akibat erupsi panjang yang terjadi di Gunung Sinabung, Tanah Karo, Sumatera Utara.

Ada sekitar 30 ribu warga yang musti mengungsi akibat status awas yang dilekatkan pada Gunung Sinabung dan hingga kini belum berakhir. "Ini pertama kalinya saya meliput peristiwa alam besar." Demi menyempurnakan esei fotonya, Agsa musti dua kali kembali ke Tanah Karo.

Oertama ia tinggal di sini selama satu bulan dan begitu juga yang keduanya. Dalam beberapa pekan, ia makan, minum dan melalui kesehariannya di pengungsian, yang memiliki sejuta kisah itu. Untuk membiayai perjalanan pencarian esei fotonya, ia bahkan harus menggadaikan beberapa benda miliknya.

"Karena saya enggak menyamakan hasil karya dengan harta yang harus dikeluarkan, materi bisa dicari. Ini momentum besar," jelasnya. Ada lima pengungsi yang akhirnya ia jadikan narasumber untuk esei fotonya.

"Saya mengemas foto esei triptik, satu narasumber dibuat menjadi tiga kali potret. Untuk mengambil gambar ladang mereka yang rusak, rumah mereka yang rusak dan kondisi mereka di pengungsian."

Ia ingin menceritakan bahwa problem Sinabung ini tak kunjung usai. Sementara di Pulau Jawa, masalahnya berbeda, pengungsi akibat erupsi gunung paling lama harus tinggal di pengungsian sekitar tiga pekan. "Sementara ini sudah jalan tujuh bulan."

Hal paling sulit dilapangan, adalah mengajak narasumbernya untuk kembali mendatangi ladang mereka. "Ini ada di radius tiga kilometer, radius rawan bahaya dan dijaga tentara. Saya hanya memiliki waktu satu jam untuk membuat potret," jelasnya.

Kini kisah para pengungsi akibat erupsi panjang Sinabung terangkum dalam 15 frame foto. Tema Unfinished sendiri bagis Agsa sangat mewakili persoalan erupsi gunung di Indonesia. "Di Indonesia ada lebih dari 30 gunung merapi aktif, dan tinggal di lingkaran cincin api itu merupakan hal yang tidak pernah selesai sampai kiamat."

(utw/utw)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads