Yayasan Lontar yang mengkhususkan pada program terjemahan sastra Indonesia, kembali akan menterjemahkan 20 karya sastra. Sebelumnya sudah ada 30 seri dalam 'The Modern Library of Indonesia'.
"Kami targetkan sampai 2015, akan ada penambahan 20 karya lagi yang diterjemahkan ke bahasa Inggris," ujar pendiri Yayasan Lontar, John H.McGlynn kepada detikHOT di Galeri Indonesia Kaya, Selasa lalu (8/4/2014).
Sebelumnya sudah ada terjemahan novel 'Salah Asuhan' karya Abdoel Moeis yang judulnya menjadi 'Never the Twain'. Juga ada 'Shackles' terjemahan novel 'Belenggu' karya Armijn Pane, 'The Pilgrilm' atau 'Ziarah' karya Iwan Simatupang, 'Telegram' oleh Putu Wijaya, 'Supernova' karya Dewi Lestari, dan sebagainya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
John juga menjelaskan jika penerjemahan ini dilakukannya juga dalam rangka promosi Indonesia mengikuti Frankrut Book Fair pada 2015 mendatang. Sedangkan masih banyak karya sastra yang bagus namun sayangnya belum dialihbasakan ke bahasa Inggris maupun Jerman.
Promosi ke kancah internasional juga belum dilakukan. "Baru dua tahun lalu program ini kami luncurkan dan kami sudah konsisten menerjemahkan karya sastra yang bagus," jelasnya.
Ia juga menjelaskan dengan adanya penyaluran dana U$1 juta dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia kepada beberapa penerbit Indonesia untuk segera menterjemahkannya semoga bisa makin berkelanjutan.
"Karena Yayasan Lontar tidak bisa bekerja sendiri. Kita berharap ada penerbit lain yang mulai. Mudah-mudahan sastra Indonesia makin dikenal dunia."
Yayasan Lontar sendiri didirikan oleh Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko Damono, Umar Kayam, Subagio Sastrowardoyo, dan John H.McGlynn. Selain itu, Yayasan Lontar juga melakukan riset dan dokumentasi sastra-budaya Indonesia. Seperti dokumentasi audio-visual tradisi lisan, rekaman wawancara pelaku sejarah, audio-visual biografi sastrawan Indonesia, dan lain-lain.
(tia/utw)











































