Selain Jodhi yang dalam kelompok musik itu berperan sebagai pemetik gitar juga pelantun puisi, ada beberapa musisi lain yang terlibat. Seperti, Pramesvara Devi pada piano, Kaunang Bungsu pada perkusi, Jassin Burhan pada cello, Yustin Arlette dan Dedi Jumwadi pada biola, juga Bujel Dipuro pada flute.
Harmoni nada pada pementasan ini mencakup berbagai jenis aliran musik, seperti jazz, reggae hingga yang berwarna nge-pop dan up-beat. Puisi yang enak didengar untuk meliuk bersama, nadanya juga beragam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Untuk menghormati para penyair dari Ranah Minang serta mengenalkannya kepada masyarakat modern, saya ramu syair-syair mereka menjadi sebuah lagu yang mudah-mudahan bisa lebih diterima di telinga masyarakat umum,β ujar Jodhi Yudono.
Dengan durasi sekitar 60 menit, Jodhi membawakan 10 nomor yang merupakan hasil gubahan dari syair-syair Minang. Puisi yang dibawakan, banyak bicara soal pandangan akan lingkup sosial, budaya dan tentu saja kemanusiaan.
Ia membuka pementasannya ini dengan puisi Kisah Burung-Burung Beo, sebuah syair karya Leon Agusta dan diakhiri dengan puisi berjudul Membaca Tanda-Tanda karya Taufiq Ismail.
(ass/utw)











































