Diiringi oleh petikan gitar yang dibawakan Dewa Budjana dan saluang dari Bang Sahat. Di atas panggung Dewa Budjana menyatakan kekagumannya terhadap Putu Wijaya.
"Ia seseorang yang tak pernah berhenti berkarya," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia mengatakan ingin sekali dibuatkan puisi untuk lirik lagunya.
"Tapi tentu saja Pak Putu tidak kenal saya. Ha..ha..ha," ujarnya kepada detikHOT di sela-sela pameran. Justru karena itu ia memberanikan diri untuk segera mengirimkan short message service (sms).

Isinya yang menyatakan ia ingin dibuatkan puisi. Tak disangka, gayung pun bersambut. Putu segera menjawab sms dari Budjana. "Itu enggak ada 10 menit langsung dibales. Pak Putu bilang oke, segera dikirimkan materinya," kenangnya.
Lantas tak ada hitungan hari, puisi berjudul 'Karma' itu pun jadi. Budjana segera mengubahnya menjadi lirik lagu. Puisi itu pun masuk dalam album solonya dan dinyanyikan oleh Trie Utami.
"Saya berterima kasih banget sama Pak Putu. Dari situ saya mengikuti perjalanan hidupnya. Dan di usia 70 tahun ini ia malah menjadi pelukis," kata Budjana.
Menurutnya, karakter sastrawan yang tak pernah berhenti berkarya meski terbatas kemampuan fisiknya, Putu Wijaya adalah panutan. "Ia menjadi seorang tokoh yang patut dihargai kerja kerasnya dalam memajukan dunia teater dan seni rupa Indonesia."
(tia/utw)











































