"Saya hapus bagian ini. Saya timpa dengan warna putih. Kamu lihatnya ini apa? Apa sudah seperti air terjun?" tanyanya kepada detikHOT.
Rencananya, ia akan membuat dua air terjun dalam kanvas berukuran 60 x 40 centimeter tersebut. "Yah, kalau tidak seperti air terjun juga enggak apa-apa. Kebenaran bisa dibolak balikan juga," ujarnya sambil tertawa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak jauh dari ruangan itu, terdapat kamar tidurnya. Sebuah dipan laiknya dari rumah sakit dan sofa memanjang terdapat di sana. Dua buah lukisan bergambar pohon juga menghiasi.

Putu menceritakan jika setiap pagi, aktivitas utamanya adalah melukis. Hal ini dilakukannya sejak keluar dari rumah sakit akibat terkena stroke.
"Tangan kiri saya masih pemulihan. Saya belum bisa mengetik dengan komputer. Hanya satu tangan yang berfungsi dengan baik, sedangkan saya tidak ingin mati karya," tutur Putu.
Lantaran hal itu, seperti tersadar dari lamunan ia pun melukis. Dalam hati ia berkata ingin melukis dan mengadakan pameran. Mengikuti gerak dari tangan kanannya ketika memegang kuas dan membiarkannya membentuk berbagai macam bentuk dan obyek di dalamnya.
Mayoritas, kata dia, tanpa konsep dan sketsa terlebih dahulu. "Tangan saya suka menolak apa yang saya pikirkan. Saya biarkan."
Lantas saja di tahun 2014 ini ia melukis hingga puluhan lukisan. Semangat dan kreativitasnya membludak. Karya lukis pertamanya adalah ketika ia sudah berada di Teater Mandiri pada 1974 silam, dengan lukisan 'Perahu'.
Baru di tahun 2000 usia masa reformasi ia melukis kembali. "Lukisan di atas kasur saya yang itu," jelasnya.
Sedangkan karya pertamanya usai keluar dari rumah sakit adalah lukisan yang bergambar cahaya rembulan dan pepohonan. Itu merupakan lukisan yang berkesan baginya sekaligus juga dipamerkan di Bentara Budaya Jakarta hingga 12 April mendatang. Sayangnya, kata Putu, tanpa disangka karya itu sudah dibeli oleh kolektor.
"Saya lupa bilang ke istri, dan istri juga salah paham karya setelah keluar dari rumah sakit. Sudah ada yang beli, ya sudah tidak apa-apa," kata Putu sambil melukis siang itu.
Kini, di dalam kediamannya terdapat puluhan lukisan. Di Bentara Budaya Jakarta terdapat 27 karya yang dipamerkan dan di rumahnya ia mengaku masih memajang karya-karya lainnya.
(tia/utw)











































