Pertama soal peralatan dalam membuat film dengan kamera rekam analog. Membeli film-film seluloid, yang menurut Edwin ini masih ada di pasaran. Ia juga harus mempelajari dan bereksperimen mencuci film seluloid dengan cairan-cairan kimia yang ada.
Tak hanya itu, bila fotografi hanya berhenti sampai tahap foto dari kamera analog tercetak, dengan kepadatan warna tertentu yang diinginkan. Film memiliki suara yang juga harus ikut diproses. Ini yang ingin dikulik hingga tuntas oleh Edwin dan rekan-rekannya di Lab Laba-Laba.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita juga ingin membuat proyek untuk dikerjakan bersama-sama, salah satu idenya, bikin film dari footage PFN yang rusak dan tidak terpakai, kita mau bongkar kembali untuk dilihat," kata Edwin kepada detikHOT (29/3/2014) di Gedung PFN, Jakarta Timur.
Anggota di Lab Laba-Laba termasuk peserta workshopnya kini sudah mencapai 30 orang. Ini bisa dibilang sebagai upaya restorasi, namun Edwin menekankan ini dalam tataran yang sederhana.
"Restorasi pasti butuh keahlian yang luar biasa dan mahal." Sementara mereka masih merasa harus menggali lebih banyak hal soal pemrosesan film di kamar gelap.
"Tapi minimal target kita itu mendata kembali, film apa saja yang ada dan kalau ada kerusakan sejauh mana. Jadi ini upaya pencatatan, sembari mendata," jelasnya. Dari sini mereka harus melihat isi dari filmnya.
"Diharapkan kita bisa mengedit sebuah gambar dengan gambar lainnya, jadi bisa membuat karya baru dari karya-karya lama yang ada, yang hampir rusak itu."
Menurut pria yang lahir dan besar di Surabaya ini, penggunaan kamera rekam analog dan film seluloid belum musnah dai industri film di dalam mapun luar negeri.
Ia juga masih menggunakan kamera rekam analog dan film seluloid 35 mm pada film-film yang ia buat. "Film saya tahun 2012 itu, masih pakai film 35 mm, saya rasa masih ada beberapa film yang syutingnya masih pakai kamera rekam analog, belum hilang. Di Hollywood pun masih dipakai khususnya untuk kebutuhan arsip dan syuting."
Yang sudah didigitalisasi itu lebih di taraf pendistribusian. "Karena memang terlalu mahal, satu film bisa 5 kaleng besar. Sementara sekarang bisa dengan hard disk kecil. Kalau film seluloid, kendalanya itu saja untuk distribusi massal."
Ia juga menjelaskan ada karakter yang khas pada masing-masing penggunaan teknologi baik analog maupun digital. "Karakternya jelas terlihat, kita bisa rasain mana yang diambil dari kamera digital dan analog, terutama ketika diproyeksikan. Yang bikin beda itu proyeksinya, kalau diproyeksikan pakai kamera digital gambar itu konstan, kalau proyeksi film analog itu seperti slide foto tapi cepat," jelasnya.
(ass/utw)











































