"Ini juga merupakan strategi dan salah satu tempat penjualan tiket," katanya beberapa waktu lalu. "Kami ingin masyarakat bisa menikmati karya seni Indonesia dan mengapresiasinya. Siti Nurbaya memang berasal dari Minang tapi kita ingin masyarakat Indonesia juga merasa memilikinya," kata Denny.
Lakon ini akan dikemas dengan format kekinian dan didukung dengan tata suara, tata cahaya dan visual yang memukau.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Denny yang hadir di Tanah Abang mengenakan busana khas Minang, dalam pementasan itu bertindak sekaligus sebagai penata busana. Semua pakaian yang dikenakan para pemain dalam pementasan nantinya didesain sendiri oleh Denny dan disesuaikan dengan karakter yang diperankan.
Misalnya saja Andi/rif yang berperan sebagai Datuk Maringgih mengenakan busana yang kental nuansa hitamnya. Selain menggambarkan karakter yang antagonis, busana ini juga mewakili kemewahan lewat hiasan kepala yang besar dan berkilau. Tak heran, karena Datuk Maringgih adalah saudagar kaya yang juga punya sifat serakah.
"Saya ingin meski pementasan ini bersetting cerita tahun 1922 itu kan sudah past time, tapi bagaimana agar secara visual juga bisa menarik penonton yang berada di masa kini," kata Denny.
(tia/utw)











































