Untuk bidang seni visualnya, Arte menunjuk Ade Darmawan selaku kurator. Mereka membuka kesempatan bagi para pelaku seni untuk mendaftarkan karyanya agar bisa berpartisipasi pada pameran ini. Ade menjelaskan ada sekitar 400 karya yang masuk dan setelah melawati proses seleksi selama beberapa waktu, terpilihlah 70 karya.
Selain dari pendaftaran karya, pihak kuratorial seni visual di sini juga menggandeng beberapa seniman yang sudah memiliki lebih banyak pengalaman untuk berpartisipasi sebagai undangan. Salah satunya adalah Tisa Granicia dengan karya instalasinya yang berjudul 300 Keys.
"Tema regenerasi ini mengangkat kecenderungan berkarya dari generasi seniman sekarang," kata Tisa kepada detikHOT. Menurut Tisa ada banyak kecenderungan berkarya dari para seniman.
"Dari mulai obrolan sosial, politik sampai hal seperti objek keseharian, eksperimen dalam material, pendisplayan, serta dampak visual yang diolah dengan cermat oleh seniman-senimannya." Pembukaan pendaftaran ini disambut gembira terutama oleh para peserta pameran dari kalangan muda. Sebagian dari mereka baru pertama kalinya mendapat kesempatan untuk memamerkan karyanya.
Terbukti, peserta pameran di Arte tak hanya berasal dari lingkup seni rupa, ada juga yang memiliki latar belakang sebagai akuntan, fotografer, sejarawan hingga budayawan.
"Pendaftaran karya untuk pameran ini sesuatu yang cukup adil, karena sering kan kalau di dunia seni rupa pamerannya hanya menyajikan nama-nama besar. atau kalau pun kolektif, entah bagaimana prosesnya tiba-tiba ada pameran," kata Zulfikar Arief.
Menurut salah satu peserta ini, orang-orang yang belum pernah ikut pameran dan memiliki karya akhirnya jadi bisa ikut pameran juga dan jadi bisa menambah warna baru lagi dalam dunia seni. Hal ini juga meregenerasi senimannya juga, agar yang muda berani unjuk gigi.
Ini juga bisa memperluas cakupan orang yang berpartisipasi, semakin luas yang bisa ikut pameran. "Karena manfaat ikut pameran, menurut saya, seniman itu kan kalau membuat karya ada sebuah idealisme tertentu, dan mungkin ini dalam lingkungan kerjanya tidak bisa ditunjukan. Dia maunya A, bosnya mau B. Seniman dalam berkarya ini dia bisa memunculkan egonya, jadi bisa tersalurkan."
Manfaat lainnya, menurut Zulfikar, karya yang selama ini hanya disimpan untuk kesenangan sendiri dan ada di hard disk-nya kali ini bisa dibagi ke masyarakat.
"Sehingga masyarakat juga bisa mengerti dengan maksud tujuan dari pembuatan karya tersebut dan juga masyakarat bisa memberikan kritik terhadap sebuah karya juga."
Dengan kritik dari masyarakat yang diterima seniman, ini bisa membuat para seniman semakin fokus dan mendalami bidangnya hingga karakternya pun semakin terasa pada karyanya.
Salah satu peserta lainnya adalah Rizki Lazuardia, biasanya dalam ajang seni rupa ia terlibat sebagai kurator bukan sebagai pelaku seni yang ikut berpameran.
"Dalam karyaku, aku bekerja dengan konsep karena aku sadar aku bukan seniman, aku tidak belajar craftsmanship aku tidak punya latar sekolah seni. Apa yang aku punya adalah pelajaran sejarah, filsafat dan studi budaya dan lebih banyak bekerja sebagai kurator," jelasnya.
Dengan kesempatan terbuka di Arte, ia pun memberanikan diri unjuk gigi dengan karyanya. "Aku di sini mendaftarkan karya karena aku bukan seniman jadi mungkin tidak akan ada yang mengajak aku."
(ass/utw)











































