Kisah Pak Djon, Sopir dan Asisten Pribadi Maestro Affandi

Kisah Pak Djon, Sopir dan Asisten Pribadi Maestro Affandi

- detikHot
Selasa, 18 Mar 2014 18:25 WIB
Kisah Pak Djon, Sopir dan Asisten Pribadi Maestro Affandi
Yogyakarta - Selain tentu saja anggota keluarganya sendiri, ada satu saksi yang bisa mengungkap kehidupan keseharian seniman besar, pelukis Baharudin Affandi Kusuma atau dikenal sebagai Affandi (1907-1990). Dia adalah Suhardjono atau sering dipanggil Pak Djon (80).

Pak Djon adalah sopir sekaligus asisten pribadi Affandi saat sang maestro berkarya sejak 1961 hingga akhir hayatnya.

"Tiga puluh tahun lamanya saya jadi sopir Pak Affandi sekaligus jadi asisten kalau mau melukis. Semua alat lukis yang menyiapkan saya," kisah Pak Djon kepada wartawan di Sangkring Art Space, Nitiprayan, Bantul, Yogyakarta.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Djon, Affandi adalah seorang yang nasionalis. Hal itu terungkap dari ucapan yang sampai sekarang masih diingatnya.

"Djon, sejak dilahirkan sampai meninggal, menurut perasaan saya, saya ini tidak pernah mengkhianati negara saya sendiri," kata Djon menirukan ucapan Affandi waktu itu.

Dia mengaku sampai sekarang masih banyak didatangi para seniman, terutama para kolektor untuk mempertanyakan keaslian lukisan Affandi. Meski tidak pandai melukis, dia memang mengetahui dan hapal dengan lukisan-lukisan Affandi.

"Ada banyak kisah saya bersama Affandi. Itu yang kemudian mengubah garis hidup saya," ungkap Pak Djon.
 
Kenangan bersama Affandi itu dibukukan dengan judul "Dia Datang, Dia Lapar, Dia Pergi: Kenangan Pak Djon, Sopir dan Asisten Pribadi tentang Pelukis Affandi (1907-1990)" Buku setebal 308 halaman itu ditulis oleh Hendro Wiyanto dan Hari Budiono.

Begitu lamanya Pak Djon menemani ke mana pun Affandi pergi, baik di Indonesia maupun di luar negeri. Orang-orang yang mengenalnya pun banyak yang menyebutnya "Djon Affandi". Pak Djon dan Affandi pun seakan tidak terpisahkan.

Menurut Hari Budiono, sosok Affandi tak bisa lagi dibayangkan seutuhnya tanpa kesetiaan dan pelayanan Pak Djon selama 30 tahun. Dalam banyak urusan, Affandi selalu bertanya dulu kepada Pak Djon dengan, “Piye, Djon?”

"Kalimat itu selalu terucap oleh Affandi," katanya. Menurut Hari, Affandi selalu 'kebelet' untuk melampiaskan naluri kesenimanannya. Affandi bisa kapan saja melukis. "Lapar melukis," demikian Hari mengistilahkan kecenderungan watak sang maestro.

Bagi Affandi sendiri, sebagai seniman, dorongan naluriah semacam itu memang tak mungkin bisa ditunda. Juga, tak bisa diketahui kapan datangnya.

"Pada saat kebelet, ribet bertarung dengan emosinya sendiri, kehadiran dan keterampilan Pak Djon menjadi sangat dibutuhkan. Pak Djon dengan cekatan menyediakan kebutuhan Affandi ketika melukis," tuturnya.

Pak Djon, lanjut dia, sudah tahu apa yang harus disiapkan dan dikerjakan. Kanvas yang ukurannya tertentu, sifat permukaannya yang sedikit kasar, warna dan merek cat yang paling mengena, sampai melap tubuh sang maestro yang kotor penuh dengan sisa minyak dan cat.

"Semua itu dikerjakan Pak Djon," kata Hari. Setelah Affandi meninggal pada 23 Mei 1990 dan dimakamkan di dekat museum di Jalan Laksda Adisutjipto, Yogyakarta atau di tepi Sungai Gajah Wong. Pak Djon menjadi rujukan banyak orang tentang lukisan-lukisan sang maestro.

(bgs/ass)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads