Dilanjutkan dengan kalimat, "Kita tak kembali ke masa silam. Kita kembali ke masa depan. Back to nature."
Seketika bagian sisi depan museum berubah laiknya sungai dengan air jernih. Banyak ikan warna warni berenang di sana. Suara opelet 'Si Doel Anak Sekolahan' keluar ke dalam layar.
Mereka berjalan dengan lenggangnya. Namun, tiba-tiba museum tampak runtuh. Pelan-pelan setiap bagian berhamburan luluh lantak.
Bangunan kembali didirikan, dilumuti oleh dedaunan lebat berwarna hijau. Runtuh lagi. Dibangun lagi.
"Konsep air dan opelet memang sengaja dihadirkan di video mapping ini," ujar penggagas dari Sembilan Matahari, Adi Panuntun.
Kota Tua menjadi bangunan sekaligus kawasan bersejarah di Jakarta. Serta saksi bisu terhadap berbagai peristiwa yang terjadi di kota ini.
Ia membuat karya video mapping ini selama 20 menit dan disaksikan oleh ribuan undangan yang hadir. Para masyarakat yang hadir pun nampak antusias sejak sore hari.
Karya dari Sembilan Matahari sebelumnya sudah pernah dipertontonkan pada Maret 2010 silam. "Saat itu juga menceritakan soal Fatahillah. Kami menambahkan sisi-sisi kebaruan yang ingin berikan kenangan tentang opelet dan pentingnya air bagi kehidupan warganya," katanya.
(tia/ass)











































