Kreasi Rangkaian Janur Indonesia Perlu Perhatian Lebih Atau Mati

Melirik Geliat Seni Merangkai Bunga (7)

Kreasi Rangkaian Janur Indonesia Perlu Perhatian Lebih Atau Mati

- detikHot
Rabu, 12 Mar 2014 15:13 WIB
Kreasi Rangkaian Janur Indonesia Perlu Perhatian Lebih Atau Mati
(dok. Wikipedia)
Jakarta - Pada setiap hajatan seperti pernikahan dan khitanan, janur seringkali dipasang di gerbang utama tempat perhelatan diadakan. Pantang rasanya, terutama dalam tradisi di Jawa dan Bali, bila sebuah hajatan tak dilengkapi dengan lambaian janur kuning alias penjor ini.

Tapi sulit dibayangkan ketika faktanya janur Indonesia bersama filosofi di dalamnya tengah berada dalam kondisi yang kritis. Wah, bukankah penjoran janur itu merupakan industri kecil yang terus berjalan hingga kini?

"Betul, tapi ini yang asalan, kalau yang dari zaman nenek moyang sebenarnya belum pernah dibukukan," kata Lusi Ismail, interiorscaper dan pemilik perusahaan dekorasi PT. Edelweiss Cantiqa Lestari kepada detikHOT (07/3/2014). Ia dan kawan-kawannya di Ikatan Perangkai Bunga Indonesia ingin mendalami janur yang diwariskan oleh para leluhur.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kita yang termasuk generasi muda terpikir ingin memuat ensiklopedia janur, dan kita berpikir orang-orang yang paham tentang ini sudah mulai sepuh, jadi mumpung mereka masih ada kita ingin lestarikan." Menurutnya, ada pakem-pakem sendiri dalam membuat janur. Setiap lipatannya mengandung doa yang dipanjatkan bagi sang pencipta.

Di Indonesia sendiri, janur tak hanya ada di Jawa maupun Bali. Menurut Lusi, ini juga ada di wilayah Manado, Kalimantan dan di NTT. "Jadi ini milik kita bersama, dengan berbagai unsur keunikan karakternya masing-masing. Inilah rangkaian bunga Indonesia," ungkapnya.

Dalam wawancara berbeda, detikHOT menemui Lucia Raras Purwaningrum, ketua Dewan Perwakilan Cabang IPBI Jakarta Selatan. Ia yang juga aktif di Dewan Pengurus Pusat IPBI sebagai humas ini, mengungkapkan kekhawatiran akan punahnya nilai yang dikandung oleh janur sebagai warisan budaya kita.

"Perangkai bunga dari luar negeri ada yang khusus datang ke sini untuk belajar janur. Dia dua minggu belajar di Indonesia untuk mempelajari ini. Jadi kenapa kita sedang konsentrasi ke janur, karena melihat wayang dan gamelan di mana orang-orang luar itu sudah banyak yang lebih pintar memainkan ini dibanding kita," jelasnya.

Ia takut bila suatu hari kita harus belajar janur dari para bule. "Konyol enggak sih? Karena sekarang mereka berbondong-bondong datang ke sini untuk belajar janur." Lucia berharap generasi muda mulai peduli dengan eksistensi janur dan nilainya di Indonesia.

Ia dapat memaklumi, bila memang mereak belum peduli "Mungkin karena belum paham adat, saya bisa pahami ini." Ia bersama rekan-rekannya pun kian gigih mensosialisasikan pentingnya makna yang dikandung oleh janur, agar bangsa ini mau lebih memperdulikan janur.

Janur kuning bisa didapat dengan harga kisaran Rp. 150 ribu untuk satu penjornya. "Dengan penghasilan segitu dan mengingat tingkat kerumitan dalam membuat janur, jadi sulit untuk mengajak orang dan minat pemerintah untuk melestarikan ini," kata Lucia Raras.

Ia yang mewakili IPBI Jakarta Selatan ini juga sempat mengaku kebingungan ketika harus mengirim remaja dalam ajang kompetisi merangkai bunga dunia yang usianya 20 tahun ke bawah, karena bisa dibilang memang tidak ada.

"Kita juga datang ke bu Suliantoro Sulaeman, beliau sudah sepuh, usianya sudah 85 tahun. Beliau adalah satu-satunya orang yang tahu filosofi janur. Beliau punya pengerajin janur namanya Mayasari."

Pengerajin di sana juga sudah sepuh semua. Kalau ini sampai lenyap, mungkin kita sudah tak punya lagi landasan penggunaan dan pelestarian janur. Suliantoro Sulaeman juga tengah berjuang untuk memasukan janur ke UNESCO.

(ass/utw)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads