Sebuah pertunjukan biasanya hanya berlangsung selama satu atau dua jam. Namun proses produksinya bisa dilakukan beberapa waktu sebelumnya. Apalagi jika pertunjukan itu mengawinkan berbagai aspek, seperti musik, teatrikal, multimedia.
Demikian pula dengan pementasan Wayang Orang Rock Ekalaya (WORE) yang tinggal berbilang hari. Tepatnya akan digelar pada Sabtu, 15 Maret mendatang di Tennis Indoor Senayan, Jakarta Pusat.
Pertunjukan ini diyakini menjadi pementasan pertama yang menggabungkan antara kisah wayang yang klasik dengan hentakan musik rock dari sejumlah musisi papan atas yang bakal sayang untuk dilewatkan. Berikut laporan yang dihimpun detikHOT, seputar proses produksi sebelum pementasan itu berlangsung.
*****
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebenarnya ide bagaimana pementasan ini akan berlangsung sudah berkecamuk di kepala Dagienkz selama dua tahun belakangan. Namun terealisasi sejak bertemu dengan Happy Salma yang bertindak sebagai produser.

"Tentu saja atas petunjuk Happy, saya melanjutkan ide itu," kata Dagienkz saat berkunjung ke redaksi detikHOT bersama Happy Salma Rabu (5/3/2014) lalu.
"Semua proses produksi mulai Agustus tahun lalu lah," kata Happy yang memang punya obsesi produksi pertunjukan berdasarkan seni tradisional yang dikemas secara modern. "Pokoknya inginnya biar anak muda tertarik."
Soal penulisan naskah ada cerita unik dari Happy. "Dagienkz menuliskannya hanya dalam beberapa malam saja. Semua sudah ada di kepalanya," kata Happy. Dagienkz sendiri mengemas naskah cerita minus lagu-lagu yang dimainkan dalam pementasan ini hingga setebal 40 halaman
Tapi bukan berarti ini cukup membuat Happy merasa nyaman. "Ya deg-degan juga, jantungan juga. Sudah jadi atau belum naskahnya. Bolak-balik saya telepon. Untung saja naskah siap pada waktunya," kata Happy.
Dagienkz mengatakan memang sejak lama suka wayang. Dia memastikan meski akan ada nuansa humor dan cinta, pertunjukan ini bisa juga ditonton oleh anak-anak. "Dari dialog dipastikan bisa ditonton anak-anak juga. Orang tua tak perlu khawatir," kata Dagienkz.
Keyakinannya ini karena sejak ide hingga proses kreatifnya Dagienkz terus dikawal anak-anaknya yang berusia 7 dan 10 tahun yang juga menyukai wayang. "Mereka jadi pembaca pertama naskah saya. Mereka banyak tanya mengapa begini mengapa begitu," kata Dagienkz.

Produksi WORE yang didukung Djarum Apresiasi Budaya sendiri buat Dagienkz semacam harapan untuk mengenalkan wayang dengan cara yang lebih asyik buat anak-anaknya.
"Saya pernah ajak mereka untuk menonton wayang aslinya. Awalnya mereka semangat, karena sudah tahu ceritanya. Tapi mereka ketiduran karena wayang kan biasanya sampai malam," kata Dagienkz tertawa. Soal lagu-lagu, Dagienkz yakin bagi para ayah yang biasa menjejali anak-anaknya dengan musik rock maka ini akan jadi pengalaman yang menyenangkan.
(utw/utw)










































