Pindah-Pindah Tempat Latihan, Padnecwara Masih Berdiri Sampai Usia 38 Tahun

Pindah-Pindah Tempat Latihan, Padnecwara Masih Berdiri Sampai Usia 38 Tahun

- detikHot
Minggu, 09 Mar 2014 13:01 WIB
Pindah-Pindah Tempat Latihan, Padnecwara Masih Berdiri Sampai Usia 38 Tahun
Aksi Padnecwara di atas pentas (dok. Padnecwara)
Jakarta - Pementasan 'Abimanyu Gugur' di Gedung Kesenian Jakarta pada 7-8 Maret lalu ibarat sebuah episode dari perjalanan panjang Padnecwara yang kini menginjak usia 38 tahun.

Sejak didirikan oleh Retno Maruti dan Sentot S pada 1976 silam, perkumpulan ini sudah mengalami banyak pasang surut. Mulai dari tempat berlatih di Auditorium Direktorat Kesenian Ditjen Kebudayaan Departemen Pendidikan Kebudayaan yang dulu berdiri di belakang Toserba Sarinah, Jakarta Pusat.Β 
Β 
Hingga sempat mampir pula berlatih di kediaman Retno Maruti maupun Sentot S. "Tapi kami berlatih dan terus berlatih kecuali pada hari Minggu dan hari besar," demikian ditulis oleh Suwarsidi Trisapto, salah seorang penari pada buku pengantar pementasan 'Abimanyu Gugur'.

"Satu hal yang menarik dari pementasan kali ini adalah kami membawakannya dengan mengikutsertakan beragam angkatan," kata Retno Maruti usai pementasan.
Β 
Dalam pementasan 'Abimanyu Gugur' Retno menurunkan 22 orang penari. Usia penari pun sangat beragam. "Ya mulai yang masih remaja sampai yang 60 tahun ada, sudah punya cucu," kata Retno.Β 

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Anggotanya sekitar 60 orang. Mayoritas adalah wanita. Mereka rutin menari dan tak hanya berprofesi menjadi seorang penari semata.Β 

"Mereka itu banyak yang dari pagi sampai sore bekerja kantoran, manajer dan direktur juga ada," katanya.Β 

Nah, bagi para penari, berlatih di Padnecwara ibarat melepas lelah. Belajar tak hanya mengolah kelembutan dalam gerakan tapi juga rasa dan batin.Β 

"Oh iya, ada beberapa yang juga berasal dari Eropa tapi sudah lama tinggal disini," kata Retno Maruti menjelaskan keberadaan beberapa wanita penari yang berwajah kaukasia.Β 
Β 
Jumlah penari aktif yang naik turun tak membuat Retno Maruti berkecil hati. "Tidak masalah. Karena buat saya sendiri, mereka sebaiknya mendapatkan sesuatu dari saat menari. Mereka belajar apa saat menari."

Misalnya, ada yang bisa bertahan selama 10 tahun atau lebih karena mendapat kepuasan batin saat menari.
Β 
Ke depannya, tentunya Retno Maruti sebagai pimpinan punya harapan agar Padnecwara bisa lebih berkembang lagi. "Ya semoga dari tarian ini masyarakat bisa lebih mengerti, dan kami bisa membuat sesuatu yang bermanfaat," katanya.
Β 
Retno bahkan tidak berpikir bahwa terus mengembangkan seni tradisional seperti yang dilakukannya untuk melawan arus budaya asing seperti K-Pop yang sedang digandrungi anak muda."Β 

Lanjutnya, ia menambahkan, "Kita ini kan musim-musiman ya. Saya tidak ingin melawan hal seperti itu dengan keras atau bagaimana. Kami malah menganggap tren semacam itu untuk memperkaya budaya juga," kata Retno Maruti sembari tersenyum lembut.
(utw/bar)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads