"Paling sebel saat narasikan karya itu tiba-tiba ada gangguan kayak tadi, ada dering handphone. Fokusnya langsung buyar," katanya usia peluncuran buku audio 'Ronggeng Dukuh Paruk' di Galeri Indonesia Kaya, Jumat malam (7/3/2014).
Menurutnya, baik akting teater maupun membaca karya sastra tak bisa dibandingkan kesulitannya. "Itu dua hal yang berbeda, tapi saya senang sekali bisa membacakan karya sastrawan ternama Ahmad Tohari," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ketika aku sudah baca teks, itu enggak akan bisa berhenti. Langsung terbawa suasana. Uniknya, kita harus bisa membangun suasana, dialog dan adegan yang ada di teks," kata Butet.
Saat penampilan di Galeri Indonesia Kaya, Jumat malam lalu (7/3/2014), Butet pun mendapatkan pujian dari pengarangnya Ahmad Tohari. "Butet berhasil membacakan dan menyampaikan pesan karya saya dengan sangat bagus sekali," ujar Tohari.
Ke depannya, jika ia kembali ditawari membaca karya sastra, Butet menginginkan karya Umar Kayam. "Masa kecil dan remaja saya besar oleh novel-novel Umar Kayam dan Ronggeng Dukuh Paruk ini," kata Butet.Â
(tia/bar)











































