"Kami sengaja buat alur per fase dari tahun 1950an agar mengingat dan memberikan space bagi pengaruh karakter Jepang di Indonesia," ujar kurator Galeri Nasional Zamrud Setya Negara usai jumpa pers Selasa (4/3/2014).
Pameran ini akkan dibuat seperti jumpa antara penggemar dengan tokoh-tokoh animasi yang disukainya. Karaker ini hadir dalam banyak bentuk seperti dua dimensi, patung, tiga dimensi, instalasi kamar penuh dengan desain Hello Kitty, dan audio visual.
Direktur Japan Foundation Jakarta Tadashi Ogawa mengatakan era karakter di Jepang hadir saat tahun 1990-an dengan Ultraman. "Sampai sekarang kita akan selalu terkenang dengan karakter ini," katanya di Galeri Nasional.
Selain Ultraman, dalam eksibisi tersebut juga menghadirkan karakter seperti Hello Kitty, Gundam, Astroboy, Pokemon, Ninja Hattori, Ksatria Baja Hitam, dan sebagainya.
Bahkan karakter Sentokun yang menjadi maskot dari prefektur Nara di Jepang juga ditampilkan. Sentokun memiliki tanduk kijang dan menopang pariwisata kawasan tersebut.
Sayangnya tidak ada patung maupun action figur dari karakter Sailormoon dan Doraemon. Menurut Ogawa, mereka sudah sangat terkenal seantero negeri sehingga tak perlu dipromosikan oleh Japan Foundation.
"Setidaknya yang ada sekarang merupakan perwakilan tiap dekade," ujarnya.
Pameran ini diselenggarakan hingga 24 Maret mendatang. Jangan lupa pada 9 Maret akan ada lektur bertajuk 'Experiencing Japanese Language Through Characters' oleh Ken Moribayashi di Lobby Gedung A.
Serta seminar 'Characters Business' oleh perwakilan perusahaan Tokyo Gets, Kohey Hara di ruang Bangsal, Galeri Nasional pada 16 Maret mendatang.
(tia/utw)











































