Akhir Februari lalu Museum Anchorage, Alaska baru saja membuka pameran seni instalasi yang semua karyanya terbuat dari sampah plastik. Di sana, ada 80 karya dari 26 seniman dari Australia hingga Finlandia. Mereka mengambil materialnya dari lautan.
Pameran bertajuk 'Gyre: The Plastic Ocean' ini juga menyajikan ekspedisi ilmiah yang mempelajari sampah tersesat di perairan Alaska. Ekspedisi ini hasil temuan ilmuwan Alaska Sealife Center, Blue Ocean Institute, Smithsonian Institution dan US National Oceanic and Atmospheric Administration.

"Plastik merupakan bahan modern, ini adalah masalah modern dan baru terjadi belakangan ini," ujar Direktur Anchorage Museum, Julie Decker seperti dilansir dari situs mnn.com, Rabu (5/3/2014).
Lantaran dampak sampah di lautan ini, kata dia, manusia bisa melakukan segala upaya penyadaran. Salah satunya melalui dunia seni.
Seperti yang dilakukan seniman John Dahlsen dalam karya 'Thongs'. Ia membuat instalasi cetak digital di atas kanvas yang membuat pemandangan 1000 sandal dibuang ke lautan. Dahlsen sendiri sudah sejak lama mengumpulkan sandal dari pantai terpencil di Australia.
Berbeda lagi dengan karya seniman Anne Percoco dengan 'Indra's Cloud'. Ia membuat instalasi awan yang dijahit bersama 1000 botol plastik. Plastik ini ditemukannya di sepanjang India khususnya Sungai Yamuna yang sudah tercemar.
Sedangkan Judith Selby dan Richard Lang membuat 'Band Shovel'. Karya ini merupakan hasil pencariannya dari sampah lautan ketika mereka pergi traveling ke berbagai negara.

"Semua karya seni ini menggambarkan setidaknya apa yang terjadi di lautan sekarang. Mereka menggunakan bahan minimal dengan kecerdasan yang luar biasa," ujar Decker.
Eksibisi di museum ini yang diselenggarakan hingga 6 September mendatang diharapkan mampu menarik 160 ribu pengunjung per tahunnya. "Semoga masyarakat, aktivis lingkungan, pengusaha, atau pecinta seni bisa melihatnya karya-karya di sini."
(tia/utw)











































