Wow, Sampah Plastik dari Berbagai Negara Dipamerkan di Alaska

Mengolah Plastik Jadi Karya Seni (5)

Wow, Sampah Plastik dari Berbagai Negara Dipamerkan di Alaska

- detikHot
Rabu, 05 Mar 2014 11:47 WIB
Wow, Sampah Plastik dari Berbagai Negara Dipamerkan di Alaska
Jutaan sedal jepit jadi salah satu karya seni. (dok.mnn)
Jakarta - Samudera telah menjadi lautan sampah dalam beberapa tahun terakhir ini. Khususnya sampah plastik yang mampu membunuh kura-kura laut, burung, dan hewan air lainnya.

Akhir Februari lalu Museum Anchorage, Alaska baru saja membuka pameran seni instalasi yang semua karyanya terbuat dari sampah plastik. Di sana, ada 80 karya dari 26 seniman dari Australia hingga Finlandia. Mereka mengambil materialnya dari lautan.

Pameran bertajuk 'Gyre: The Plastic Ocean' ini juga menyajikan ekspedisi ilmiah yang mempelajari sampah tersesat di perairan Alaska. Ekspedisi ini hasil temuan ilmuwan Alaska Sealife Center, Blue Ocean Institute, Smithsonian Institution dan US National Oceanic and Atmospheric Administration.



"Plastik merupakan bahan modern, ini adalah masalah modern dan baru terjadi belakangan ini," ujar Direktur Anchorage Museum, Julie Decker seperti dilansir dari situs mnn.com, Rabu (5/3/2014).

Lantaran dampak sampah di lautan ini, kata dia, manusia bisa melakukan segala upaya penyadaran. Salah satunya melalui dunia seni.

Seperti yang dilakukan seniman John Dahlsen dalam karya 'Thongs'. Ia membuat instalasi cetak digital di atas kanvas yang membuat pemandangan 1000 sandal dibuang ke lautan. Dahlsen sendiri sudah sejak lama mengumpulkan sandal dari pantai terpencil di Australia.

Berbeda lagi dengan karya seniman Anne Percoco dengan 'Indra's Cloud'. Ia membuat instalasi awan yang dijahit bersama 1000 botol plastik. Plastik ini ditemukannya di sepanjang India khususnya Sungai Yamuna yang sudah tercemar.

Sedangkan Judith Selby dan Richard Lang membuat 'Band Shovel'. Karya ini merupakan hasil pencariannya dari sampah lautan ketika mereka pergi traveling ke berbagai negara.



"Semua karya seni ini menggambarkan setidaknya apa yang terjadi di lautan sekarang. Mereka menggunakan bahan minimal dengan kecerdasan yang luar biasa," ujar Decker.

Eksibisi di museum ini yang diselenggarakan hingga 6 September mendatang diharapkan mampu menarik 160 ribu pengunjung per tahunnya. "Semoga masyarakat, aktivis lingkungan, pengusaha, atau pecinta seni bisa melihatnya karya-karya di sini."

(tia/utw)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads