Hobi narsis dan selfie ini ikut menjadi angin segar BAGI bisnis photo booth. "Prospeknya menurut saya ini bisa berkembang sangat pesat, karena kita narsis he..he..he. Karena eksistensi diri sendiri," ujar pendiri Boothlicious Surya Karimasa kepada detikHOT Sabtu (1/3/2014).
Meski terkesan bercanda, namun Surya kembali menegaskan alasan ini serius dan menguntungkan. "Lagipula di photo booth ada nilai yang enggak tergantikan dari kamera ponsel, tiap penyelenggara juga kan punya properti yang unik, jadi ada nilai tambahnya."
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski, kata dia, bisnis ini sudah banyak pesaing, ia tetep optimistis menjalankan usahanya. "Tapi tetap masih ada peluang untuk diambil."
Ia juga menjelaskan jika hasil cetakan fotonya banyak dikoleksi. Baik untuk mengenang momen sekaligus hiasan kamar yang apik. Terlebih lagi, kebiasaan remaja Jakarta menggunggah ke jejaring sosial. Ini semakin memudahkan para penyedia jasa photo booth dalam memasarkan layanannya.

"Karena semua orang suka foto-foto, kita jadi dimudahkan untuk memasarkan," kata Clara. Tentunya media promo yang digunakan makin sederhana.
Dari mulut ke mulut hingga memanfaatkan lewat linimasa jejaring sosial. "Kita pilih pemasarannya online, lewat facebook. Karena menjual dagangan di online lebih mudah," kata Surya dari Boothlicious.
Sayangnya, tetap saja ada kekurangannya yakni orang Indonesia masih krisis kepercayaan dengan para penyedia jasa online.
"Tapi di online untuk Indonesia itu masih ada krisis kepercayaan, jadi mereka perlu lihat bukti kegiatannya. Dengan Facebook, orang bisa lihat sejarah di linimasa dan komentar yang masuk juga."
Bila Boothlicious hanya memanfaatkan facebook, berbeda dengan Voir Instant Photo Corner. Mereka juga menggunakan instagram lewat akun @hellovoir.
"Media promo pastinya dari mulut ke mulut. Kita juga pakai facebook dan instgaram, karena semua orang rata-rata unggah foto di sini. Jadi mereka yang ingin tahu hasil kerja kita, bisa lihat hasilnya," kata Clara.
(ass/utw)











































