Ketika Teater Koma Mengkritik Pemerintah Dengan Pentas 'Demonstran'

Ketika Teater Koma Mengkritik Pemerintah Dengan Pentas 'Demonstran'

- detikHot
Sabtu, 01 Mar 2014 16:28 WIB
Ketika Teater Koma Mengkritik Pemerintah Dengan Pentas Demonstran
(Tia Agnes Astuti/detikHOT)
Jakarta -

Para pemain berhamburan ke atas panggung. Mereka berlarian tak tentu arah. "Topan menghantam, bandai menerjang! Tuntut! Tuntut! Tuntut!"

Lagu berjudul 'Demonstasi' tersebut dengan lantang mereka nyanyikan. Tangan kanan dikepalkan ke atas. Hentakan kaki menambah irama semangat juang para demonstran.

"Di mana muara segala pertanyaan? Ketika mereka buta, bisu, dan tuli. Dan langit tak sudi menjawab lagi. Dua keputusan itu lalu disodorkan. Pro kontra atau rangkul-ganyang," bait terakhir lalu masih dinyanyikan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT



Pria berpakaian kemeja putih rapi itu memasuki panggung. Para wartawan mengerubunginya. "Bagaimana pak dengan proyek pembangunan ini? Kelanjutannya bagaimana?"

Tokoh yang dikenal sebagai pebisnis itu bernama Topan. Ia menjawab dengan lancar segala pertanyaan media. Di akhir sesi, ia membagikan goodie bag dan sejumlah uang. "Makasih..makasih pak," ujar para wartawan.

Topan adalah tokoh utama dalam lakon 'Demonstran' yang dipentaskan Teater Koma mulai 1-15 Maret mendatang di Graha Bhakti Budaya, TIM.

Ia adalah mantan demonstran yang tak mau lagi turun ke jalan. Biar para pengikutnya (Niken, Wiluta, dan Jiran) masih memaksanya. Dua puluh tahun yang lalu, Topan memimpin demonstrasi dan berhasil menurunkan pemerintahan.

Para aktivis ingin menjadi seperti Topan. Ia diagung-agungkan laiknya pahlawan. Pejabat T yang berniat jadi presiden dikenal dekat dengan Bunga (Cornelia Agatha).

Patung Topan dibuatkan oleh Pejabat T. Ketika ia merasa korupsi, kolusi, dan nepotisme kian merajalela, Topan turun ke jalan. Namun, ia justru dibunuh.

"Akhir cerita ini yang saya sudah pikirkan sejak awal buat naskah. Akan menjadi seperti apakah Topan ini," ujar sutradara 'Demonstran' Nano Riantiarno usai pentas Jumat malam (28/2/2014).

Ia memutuskan Topan menjadi tumbal demonstrasi sekaligus pahlawan bangsanya. Pejabat itu dipilih rakyat sebagai presiden. Serta Bunga secara intim berada di sampingnya.

Uniknya, lakon yang digelar selama 180 menit ini dikisahkan laiknya dongeng. Nano sengaja membuatnya sesuai momen tahun 2014 dengan tema politik.

"Pentas ini memang sarat dengan unsur kritik sosial. Saya selipkan juga dialog-dialog sindiran untuk pemerintah dan kejadian belakangan ini," katanya.

Di antaranya seperti dialog ketika presiden curhat di televisi karena marah dengan menterinya, kalimat 'korupsi partai saja selalu disembunyikan', pembebasan wanita bandar narkoba di Bali. Serta kalimat 'solusi bukan dengan buat lagu-lagu'.

Selain itu, di beberapa adegan juga terselip kata 'Blaburd, Blubard, Blubard, Blaburd'. "Kata-kata ini adalah deskripsi dari bangsa sekarang. Silahkan diartikan sendiri," ujar Nano.



(tia/utw)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads