Konon di tempat ini pula menjadi salah satu pertapaan mantan Presiden Indonesia, Soeharto. Penganut kepercayaan tertentu percaya Gunung Srandil adalah 'pancering bumi' yakni pijakan pertama ke bumi atau jalan utama menapaki khayangan menuju dunia.
Namun buat sekelompok anak muda dari Pesantren Al Ihya Ulumaddin, Cilacap, Jawa Tengah gunung itu adalah juga sumber inspirasi dan rasa penasaran.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lewat program Festival Film Santri yang diadakan Search for Common Ground (SFCG) Indonesia awal tahun lalu, para santri mengajukan ide film dokumenter tentang Islam Kejawen.

Pekan lalu, detikHOT berkesempatan mengunjungi pesantren terbesar dan tertua di Cilacap itu tersebut di kawasan Kesugihan, dan mewawancarai para pelaku film dokumenter yang berjudul 'Dhewek be Islam', yang bermakna 'Kami Juga Islam'.
Salah satu tim pembuat video, Sidik Nur Thoha mengatakan ketertarikan muncul saat ada kegiatan Pramuka di Gunung Srandil. "Saya lihat kok aneh yah. Jumat Kliwon banyak yang pakai baju putih semuanya mau ke sana," ujarnya di Ponpes Al-Ihya Ulumaddin, Cilacap, Selasa pekan lalu (18/2/2014).
Ide tersebut dilontarkannya kepada kawan satu tim dan dirembukkan kepada pihak pesantren dan SFCG Indonesia. Film yang berdurasi 10 menit itu pun dibuat dalam waktu satu minggu.
Mereka pun berhasil mewawancarai pimpinan dari jamaat Islam Kejawen yang tergabung dalam Himpunan Penganut Kepercayaan (HPK). Serta beberapa anggota jamaat lainnya.
Selain itu, pihaknya juga berhasil merekam beberapa kegiatan Islam Kejawen di Gunung Srandil tersebut. "Setelah melalui lobi-lobi kami diperbolehkan shoot ke sana," ujar Sidik.
Tak hanya dari sudut pandang jamaat HPK saja, tapi Sidik dan kawan timnya juga mewawancarai pimpinan pesantren dan kepala urusan agama setempat.
Meski film dokumenter 'Dhewek Be Islam' ini tidak mendapat juara dalam Festival Film Santri (FFS), namun ia sudah diapresiasi di festival lainnya. Seperti menjadi finalis di Erasmusindocs International Documentary Competition tahun lalu.
Sidik pun tak menyangka jika timnya bisa masuk ke festival film. "Yah rasanya bangga saja, anak santri dari pesantren bisa jadi finalis di Erasmusindoc dengan fasilitas minim, hehehe..," ujarnya.
(tia/utw)











































