Uniknya Masjid dan Gereja Yang Cuma Punya 'Satu Alamat'

Festival Film Santri (4)

Uniknya Masjid dan Gereja Yang Cuma Punya 'Satu Alamat'

- detikHot
Rabu, 26 Feb 2014 11:12 WIB
Uniknya Masjid dan Gereja Yang Cuma Punya Satu Alamat
Cuplikan film 'Satu Alamat'.(dok.FFS)
Jakarta - Di mana bisa ditemukan masjid dan gereja berdiri berdampingan dan tanpa pertikaian antar umat beragamanya? Hanya di satu alamat ini, kedua bangunan tersebut berdiri kokoh sejak puluhan tahun yang lalu.

Di Jalan Gatot Subroto Nomor 222, Kratonan, Solo terdapat Masjid Al Hikmah yang sudah ada sejak 1947. Serta Gereja Kristen Jawa (GKJ) Joyodiningratan dan sudah berdiri pada 1939.

"Kami ingin menunjukan tentang perdamaian. Ada masjid dan gereja berdiri di satu alamat, satu nomor persis bersebelahan," ujar pendamping tim santri Ponpes Al Muayyad, Solo, Noor Ridlo kepada detikHOT di Wisma PKBI, Kamis lalu (14/2/2014).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pria yang akrab disapa Ridlo ini mendampingi para santriwati untuk meminta ijin kepada pihak gereja. "Alhamdulillah, kami sampaikan maksud mau buat video dokumenter, mereka izinkan kami shoot," ujarnya.

Pengalaman merekam, khususnya masuk ke dalam gereja, kata Ridho, merupakan hal yang baru bagi santri perempuan. Terlebih lagi mereka memakai jilbab dan rata-rata belum pernah masuk ke dalam gereja. "Ketika ada kebaktian mereka shoot sendiri, mereka masuk dan orang gerejanya baik-baik semuanya," kata Ridlo.

Video dokumenter yang bertajuk 'Satu Alamat' ini mempunyai pesan bahwa umat Islam dan Nasrani yang beribadah di sana hidup rukun dan baik-baik saja. Uniknya hingga kini, di masjid itu tidak ada bedug dan gereja itupun tidak ada lonceng.

Nah, ketika Lebaran jatuh pas di hari Minggu, maka jamaat gereja akan menyesuaikan waktu ibadahnya setelah shalat Iedul Fitri.

"Saat ada kebaktian Jumat pun, mereka saling menghormati. Ini yang mau kami sampaikan ke khalayak, beginilah Islam dan Nasrani hidup berdampingan dan tak ada di kota lainnya," ujarnya.



Saat pembukaan Festival Film Santri (FFS) di Erasmus Huis tahun lalu, Direktur The Wahid Institute Yenny Wahid mengatakan melalui film-film ini sarat akan pesan positif dan toleransi beragama. "Dilihat dari film-film mereka, Indonesia memiliki masa depan yang cerah," ujar Yenny.

Melalui film 'Satu Alamat', salah satu santri Al-Muayyad Solo, Oxy mengatakan pandangannya tentang dua agama ini jadi terbuka. "Sebelumnya saya kira umat Nasrani tidak toleran dan tidak mau bergaul. Saya dapat pemahaman baru bahwa mereka juga baik, ramah, suka menyapa, dan menolong sesama," ujarnya.

Selain menyebarkan pesan toleransi melalui film, program di 10 pesantren ini juga membuat 10 radio komunitas yang aktif berjalan hingga kini. Serta membuat program radio yang mencerahkan dan menghibur dan sudah disiarkan di 50 radio komunitas dengan total 5000 pendengar.

(tia/utw)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads