detikHot

art

'Nyanyi Sunyi Kembang-Kembang Genjer' Akan Pentas di Hari Perempuan Internasional

Jumat, 14 Feb 2014 11:16 WIB - detikHot
Dok: Institut Ungu Dok: Institut Ungu
Jakarta - Sejarah kelam Indonesia tahun 1965 masih terus dikupas hingga kini, maka selalu ada banyak fakta baru yang ditemukan. Sementara Institut Ungu coba mensosialisasikan hasil penelitiannya mengenai para ekstapol perempuan melalui pementasan teater.

Pementasan teater berjudul 'Nyanyi Sunyi Kembang-Kembang Genjer' ini akan diselenggarakan pada 7 hingga 9 Maret 2014 di GoetheHaus, Menteng, Jakarta Pusat. Tanggal ini dipilih karena sekaligus memperingati Hari Perempuan Internasional 2014, yang jatuh setiap tanggal 8 Maret.

Sebuah cerita drama yang terinspirasi dari fakta sejarah ini, memang khusus didedikasikan kepada para perempuan yang pernah menjadi tahanan politik ‘65 dan korban kekerasan seksual di Indonesia dan di seluruh dunia.

Naskah drama pementasan ini ditulis oleh Faiza Mardzoeki, yang sekaligus menyutradarai dan menjadi produser. Proses teater ini berawal dari penelitian yang dilakukan Faiza bersama timnya selama hampir dua tahun.

"Penelitian ini dilakukan antara lain dengan mewawancarai para perempuan penyintas tahanan politik ‘65 di Jogjakarta, Solo, Klaten, Sragen, Semarang, Jakarta, serta beberapa eksil Swedia dan Belanda, hingga mengunjungi lokasi yang dulu dipakai sebagai tempat isolasi para tahanan perempuan, Plantungan," kata Faiza dalam sebuah rilis yang diterima detikHOT (13/02/2014).

"Selain wawancara, tim membaca berbagai literatur sejarah dan diadakan pula diskusi dengan berbagai kalangan ahli sejarah ‘65.

Pementasan ini akan melibatkan enam pemain perempuan antara lain, Niniek L Karim, Pipien Putri, Irawita, Ani Surestu, Ruth Marini dan Heliana Sinaga.

Di sini akan diceritakan bagaimana kenangan kegembiraan dan kebanggaan akan masa muda para perempuan yang menjadi ekstapol. Kemudian disambung dengan kisah pengalaman pahit dan traumanya akibat kekerasan seksual, juga saat harus menghadapi stigma yang ditempelkan padanya oleh kekuasaan.

"Masa lalu mereka merupakan bagian dari sejarah Indonesia yang ikut membentuk generasi sekarang, yaitu kita semua. Teater ini dibuat untuk memberi suara dan menolak lupa tentang para perempuan korban politik ‘65."


(ass/ass)

Photo Gallery
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikhot.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com