Beragam materi digunakan untuk mengusung konsep mulai dari soal kepedulian pada lingkungan, menyoal kekuasaan birokrasi, sampai efek globalisasi terhadap masyarakat Bali. Berikut beberapa di antaranya:
Kenapa Harus Chiquita
|
|
Karyanya yang berjudul 'Kenapa Harus Chiquita' ini mengibaratkan produk alam yang dikuasai korporasi bermodal kuat. Seperti buah-buahan pisang yang ada ragam jenisnya termasuk pisang bermerk 'Chiquita' dari Amerika.
Pembuatnya adalah Ali Effendi yang menyusunnya dengan teknik kolase serta mengelemnya dengan lem khusus. "Saya menyusun kayu itu apa adanya dalam bentuk dan ukuran yang tidak terlalu besar," ujarnya. Setiap bahan mempunyai karakter sendiri termasuk material kayu yang keras dan padat.
Lulusan jurusan Seni Murni ISI Yogyakarta ini pun membuatnya dengan teknik pahat. Bentuk yang tadinya berantakan kini sudah indah dan sesuai yang diinginkan Ali.
Pencakar Langit.
|
|
Bentuknya seperti rumah bertingkat yang disusun menjadi tiga bagian dengan tangga di antaranya. Gambar pintu, jendela, dan aksesoris rumah lainnya digambarnya dengan pensil dan pena permanen.
Seniman ini pernah bermukim dalam program Southeast Asia Art Group Exchange (SAGE) 3 Residency di Perahu Art Connection, Yogyakarta, dan Huose of Malahati, Kuala Lumpur.
Pressed Junk #1
|
|
Glo(BABI)sation
|
|
Sekartaji
|
|
I Don't Dream Violence
|
|
"Di karyanya ini saya ingin memperpanjang hidup si kantong kresek hingga ia terurai," ujarnya seperti dalam katalog pameran 'Di Antara/ In Between'.
Mengambil bentuk pistol Browning High-Power 9 mmm ini, Tisa menyimbolkan bentuk kekuasaan birokrasi yang kuat tapi lemah di dalamnya. "Ini metafora birokrasi kita."
Pendiri Kandura Keramik dan sudah menjadi manager produksinya sejak 2005 silam ini juga mengatakan jika ia sengaja merajutnya. Dari kantong kresek hitam yang lusuh, akan ada harapan melalui rajutan indahnya seni.
Halaman 2 dari 7











































