Ia adalah Octora. Seniman muda asal Bandung yang mendapatkan juara dua dalam Kompetisi Trimatra Nasional Salihara-Kemenparekraf akhir tahun 2013 lalu. Ia menciptakan karya berjudul 'Gadis Komando'.
"Saya meminjam bentuk high heels perempuan yang di bawahnya terdapat stiletto berupa pisau komando," katanya kepada detikHOT di Galeri Salihara akhir pekan lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di karyanya kali ini, ia menyoroti isu tentang agresi pada manusia dan permainan tanpa akhir dengan 'bahaya'. Bahaya tersebut dimaksudkannya sebagai segala hal yang berada di luar diri manusia.
Sedangkan penggunaan stiletto menjadi tumpuan alas kaki wanita yang menunjukkan ketegangan antara agresi dan kerentanan. "Saya selalu memakai benda-benda yang tidak asing di keseharian saya," ujar lulusan Seni Patung, ITB.
Sejak lulus, awalnya ia memakai medium bahannya adalah kain. Hal ini karena sejak kecil ia sudah terbiasa melihat kain di rumahnya. Namun suatu hari tak sejak ia pergi ke pasar loak di Bandung.
"Saya menemukan karakter yang agak mirip antara logam dan kain. Baru setelahnya saya buat karya yang terbuat dari logam," ujar Octora.
Material logam indentik dengan kekuatan dan keras. Sedangkan kain lebih fleksibel dan lentur. "Keduanya sama-sama enggak asing."

Di samping kedua buah karya seni 'Gadis Komando', ia meletakkan dua karya patung logam lainnya. Salah satunya yakni berbentuk korset dengan terdapat duri-duri di payudaranya.
Caranya membuatnya, kata Octora, dimulai dengan teknik membangun. "Saya pakai karton dulu, direkat disambung, direkat disambung trus digabungin. Lalu ditransformasikan ke logam," ujarnya.
Penggunaan bahan material merupakan favorit Octora. Sehingga ia kerap kali rajin menggunakannya. Dua tahun lalu, seniman muda ini pernah mengadakan pameran tunggal yang bertajuk 'After Happiness di D'Gallery, Jakarta.
Sementara pameran bersama lainnya pernah ia ikuti seperti HOrizon of Strength: Metakriya Nusantara, Galeri Seni Kunstring (2013), Landing Soon #10 di Cemeti Art House, Yogyakarta (2009), dan The Nonya's Project, CCF, Bandung (2007).
Bahkan ia pernah menjadi seniman mukiman di antaranya Centre Intermondes, La Rochelle, Perancis pada 2012 lalu. Serta di Bamboo Culture Studio, Taiwan tahun 2010.

(tia/utw)










































