"Karya saya penuh dengan warna biru terang, pink, dan ungu muda," katanya seperti dilansir dari Visual News, Kamis (6/2/2014).
Namun, kata dia, tergantung juga terhadap garis gradien halus yang dibuatnya. Tak hanya kehalusan garis, tapi ia juga mampu membuat garis tajam dan kian terperinci.
Sementara, banyak seniman tato lainnya yang membuatnya bergantung terhadap alat digital. Mereka melakukan hal-hal dengan cara yang biasa, meski hasilnya cemerlang.
Seniman ini menamakan karyanya sebagai Sasha Unisex. Tato berwarna cerah dan penuh dengan kehidupan hewan imajinatif menyampaikan beban emosi dari si pembuat.
Editor Visual News, Benjamin Starr menyebutnya juga sebagai karya seni painterly. "Maksudku sebelum ia meletakkan karyanya di kulit, ia membuatnya dulu dengan desain yang sesuai pakai cat air," katanya.
Ketelitian Sasha membuat rinciannya terlebih dahulu sebelum diletakkan permanen, membuat Starr juga menjulukinya sebagai Sang Perawan Tato.
(tia/utw)











































