Di panggung ada dua orang pria muda. Salah satunya berkumis dan dikenal sebagai Slamet Rahardjo. Di sampingnya ada pendiri Teater Koma, Nano Riantiarno. Mereka menjawab serentak, "Enggak ada, pak. Bener."
"Elu berdua cari tahu itu bau apaan. Gue kagak bisa kerja ini, ngetik skenario kan buat elu berdua juga," gertaknya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"No, elu aja deh yang buang. Gue kan malu, baru dapat piala kok disuruh buang sampah. Kalau warga se Kebon Pala tahu, mau ditaruh di mana muka gue," ujar Memet sambil menyerahkan sekantong plastik sampah kepada Nano.
Adegan tersebut yang paling diingat oleh Slamet dan Nano kala itu. "Itu yang paling berkesan sampai sekarang saat saya sama Nano ada di Teater Populer," ujarnya saat peluncuran buku 'Slamet Rahardjo: Sebuah Esai Sapardi Djoko Damono' di Galeri Salihara semalam.
Setiap hari kerjaan di sanggar adalah menyapu, mengepel, dan cuci piring. "Lama-lama aku bosan. Aku kan mau jadi aktor," ujarnya.
Namun, sosok Teguh Karya mengajarkan banyak ilmu baginya. Lantaran sudah mendapatkan pengetahuan seni dan berakting, ia pun mau mengajar selama 30 tahun di IKJ.
"Dulu aku enggak ngerti apa-apa. Sampai aku sekarang jadi apa-apa. Dosa kesamber geledek kalau aku enggak bisa balikin semuanya ke orang," kata Slamet.
Ia pun mengatakan sering menolak ajaran Teguh Karya. Sutradara sekaligus pendiri Teater Populer tersebut memang sering mementaskan lakon drama Barat. Sedangkan, kata dia, seharusnya diadaptasi bukan diterjermahkan.
"Aku di suruh memainkan lawannya Petruska orang Rusia. Siapa itu Petruska saya enggak kenal. Kenalnya Parto. Seharusnya diadaptasi, ini pemberontakan saya terus menerus terhadap Teguh Karya," jelasnya.
Seniman asal Yogyakarta, Butet Kertaradjasa mengatakan sosok Slamet bisa membumikan nabinya orang teater yakni Stanislavsky. Ia adalah seniman dan peletak dasar drama Rusia.
Menurutnya dalam ilmu seni peran jika sudah bisa membumikan teori Barat ke dalam kultur dan kebutuhan orang Indonesia, itu bukan lagi akting.
"Artinya dia sudah menjelma, bukan lagi akting main bohong-bohongan," ujar Butet.
Di akhir peluncuran bukunya yang juga secara tidak langsung sebagai perayaan ulang tahunnya ke 65, ia mengatakan sebuah filosofi Teguh Karya yang selalu diingatnya. "Kreativitas tidak boleh mati! Terima kasih."
(tia/utw)











































