Dengan warna pagar yang meriah dengan paduan merah, putih dan biru, tentunya cukup mencuri pandangan. Memasuki pelataran Wihara ini, kita akan disambut dengan dua buah patung singa yang diletakkan berseberangan.
Kemudian di sisi tembok halamannya terdapat sebuah patung kura-kura warna emas. Di atasnya terpapar sebongkah batu prasasti berukuran satu setengah kali tinggi manusia dewasa. Telisik punya telisik, batu ini ternyata berasal dari abad ke-18.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut tulisan yang dibuat pada tahun 1789 oleh J.J Vogelaar, diuraikan pada dahulu kala klenteng ini difungsikan sebagai tempat untuk upacara-upacara yang berhubungan dengan orang mati.
Upacara tersebut dilangsungkan pada pesta qing-ming atau Pesta Para Arwah. Untuk perayaan Imlek tahun ini, sama seperti tahun-tahun sebelumnya, akan ada acara khusus yang diadakan di klenteng ini.
"Tanggal 30 Januari nanti jam 2 siang akan ada sembahyang biasa. Malamnya, jam 11 ada acaranya untuk menyambut datangnya buddha-buddha," ujar salah seorang petugas di klenteng Di-cang yuan kepada detikHOT (23/01/2014).
"Nanti patung yang di sebelah kiri bangunan ini, akan diletakkan di depan untuk disembahyangin kemudian akan diarak, banyak orang yang berebut mau pegang."
Petugas tersebut juga tak bisa memprediksi akan ada berapa banyak jemaat yang menghadiri acara rutin ini. "Jemaat kita enggak tahu pastinya, karena enggak tentu, sekarang berkurang-berkurang terus sih."
Klenteng yang dalam kunjungan detikHOT ini sedang dibersihkan dari genangan air banjir yang masuk hingga ke beberapa ruangannya ini juga memiliki benda yang mengandung benda sejarah lainnya.
Di ruang utama Kelenteng ini terdapat patung delapan belas dewa. "Ini sudah 300 tahun umurnya," ujarnya. Patung ini disebut Arhat atau Lohan, artinya adalah penghancur musuh, yang maknanya untuk menghancurkan nafsu jahat.
Di Kelenteng tua ini juga terdapat patung Di-cang wang atau Raja Neraka. Konong ini ditahtakan hanya kepada empat klenteng. Salah satunya di Klenteng ini.
Patung Di-cang wang yang sudah tua dibuat pada abad ke 18, dengan keahlian seni yang tinggi dan apik. Dewa ini seringkali digambarkan tengah duduk di atas seekor singa. Salah satu patung Di-cang wang tua juga masih berdiri kokoh di klenteng ini.
Di sayap kanan klenteng ini terdapat papan nama orang-orang yang telah meninggal, semua berjajar rapih bertingkat. Sayang, ketika detikHOT mampir ke tempat ini, ruangan untuk papan nama ini tengah terendam banjir setinggi betis orang dewasa.
Di samping ruangan ini, masih terdapat papan-papan nama, khusus ruangan yang ini, papan namanya menuliskan nama-nama leluhur. "Disini untuk papan nisan orang yang sudah meninggal, jadi namanya di catat. Tapi disini tidak ada abu."
(ass/utw)











































