Kepada detikHOT Santoso berujar bahwa sebenarnya pernah terjadi dua kali kebakaran hebat di sekitar klengteng ini. Tepatnya di sekitar wilayah Jalan Pasar Baru Dalam.
Hebatnya, tak ada secuilpun badan kelenteng yang rusak terjilat api. "Pernah ada dua kali kebakaran di sekeliling klenteng ini, sebelah habis, belakang juga abis, tapi disini tidak apa-apa," ujarnya (23/01/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kebakaran pertama terjadi pada tahun 1955, sementara kejadian kebakaran yang kedua, Santoso tak ingat tahunnya. "Padahal waktu itu bangunan klenteng ini belum seluruhnya tembok ya, masih campur dengan papan. Tapi memang mu'jizatnya itu."
Klenteng tua ini juga tak tersentuh banjir ketika wilayah Pasar Baru dan sekitarnya mulai terkepung banjir, pada pekan lalu.
Wihara dengan luas sekitar 500 meter ini, memang sarat akan barang-barang peninggalan yang sudah tua. "Disini ada barang-barang peninggalan leluhur, seperti patung-patung, papan, yang sudah ada dari dulu," kata Santoso. DetikHoT melihat salah satu pusaka klenteng adalah semacam tempat pemujaan bertuliskan Embah Raden Sura Kencana Winata.

Klenteng ini akan buka selama 36 jam saat Imlek nanti. Santoso juga menjelaskan bahwa disini jemaat yang datang itu bisa dari berbagai kalangan, bahkan ada yang datang dari luar daerah dan luar negeri.
"Kalau luar negeri, yang datang sembahyang kesini sampai 89 negara. Karenanya kalau hari-hari besar apapun kita selalu buka, enggak pernah tutup," kata Santoso yang dalam tugasnya dibantu 12 orang staf klenteng.
Ketika ditanyakan soal kapasitas jumlah jemaat yang bisa ditampung di dalam Klenteng ini, Santoso menjelaskan bahwa disini jemaatnya tidak datang serentak.
"Umat Buddha yang menjadi jemaat disini datangnya enggak serentak, tidak seperti wihara-wihara yang kebaktian. Disana dibuat beberapa kali macam gereja. Kalau kita disini, sesuka mereka mau datang kapan."

Diluar aktifitas khusus seperti persiapan Imlek, klenteng ini juga memiliki beberapa kegiatan rutin. Misalnya bakti sosial.
Seperti membantu orang-orang jompo, membantu korban bencana alam, anak yatim piatu dan pengobatan gratis. "Kita disini menyalurkan bantuan dari sumbangan yang diberikan oleh para donatur dan simpatisan."
Santoso juga menceritakan sekilas soal sulitnya menjalankan operasional klenteng ini setiap hari dengan mengandalkan sumbangan yang tak menentu dari para donatur. Santoso berharap pemerintah bisa lebih memperhatikan nasib kelengteng-kelenteng tua, seperti Sin Tek Bio ini.
(ass/utw)











































