Untuk mengetahui lebih lanjut hubungan klenteng dengan peradaban dan budaya masyarakat Cina di Jakarta, DetikHOT sempat berkunjung kebeberapa klenteng tua di Jakarta dan coba menyusuri sejarah, arsitektur dan kegiatan sehari-harinya.
Disana kita bisa mempelajari bagaimana pengaruh Hindu-Buddha dalam pembentukan identitas bangsa yang majemuk ini. Ada banyak benda-benda tua peninggalan para nenek moyang yang disimpan di beberapa klenteng juga.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
***
Ada sebagian kepercayaan masyarakat Cina yang menyebut, hujan yang turun saat Imlek adalah pertanda baik. Bahwa rezeki akan banyak diturunkan sepanjang tahun berikutnya.
Namun tentunya tak ada seorang pun yang berharap dan menginginkan hujan turun terus menerus, hingga banjir mengenangi Jakarta dan sekitarnya. Semua tentu berharap bencana ini segera usai.

Jika kita menyusuri sepanjang Jalan Lautze, Sawah Besar, Jakarta Pusat, kita bisa menemukan setidaknya ada tujuh klenteng, baik yang umum maupun milik sebuah keluarga. Saat ini beberapa klenteng itu juga jadi korban banjir.
Prihatin rasanya melihat mereka, jamaat klenteng yang semestinya sibuk mempersiapkan Sincia, malah bersibuk menangani banjir yang melumpuhkan aktivitas mereka.
Nama klenteng yang berada di kawasan ini antara lain, klenteng Wan-ji si atau Wihara Budhayana, Di-cang yuan atau Wihara Tri Ratna, Wihara Tunggal Dharma, Zhu-yuan an atau Wihara Juana Marga, Wihara Dharma Yuga, Wihara Maha Vira Graha, Wihara Venuvana.
***
Pekan lalu ketika detikHOT menyusuri Jalan Lautze, kondisi jalanan di kawasan Sawah Besar, Jakarta Pusat itu tengah terendam banjir.
Beberapa klenteng yang rencananya akan dikunjungi sebagian tak bisa disinggahi, karena tingginya genangan air. Sementara di klenteng lainnya di Jalan Lautze yang dekat dengan klenteng Di-cang yuan atau Wihara Tri Ratna ini, sebagian besar tutup. Tak ada yang menunggu.
"Biasanya pada buka, ini karena dari semalam sudah banjir dan hujan belum berhenti jadi mungkin pada mengungsi," kata Surya, salah seorang petugas jasa parkir di sebuah mini market, tempat detikHOT harus meneduh.
"Kalau di Lautze yang dekat Jalan Kartini itu banjirnya sudah lebih dalam." Meski begitu, ternyata salah satu klenteng umum, Di Can yuan atau Wihara Tri Ratna, yang tengah terendam banjir ini tetap buka dan tampak beberapa orang sedang beraktivitas di dalamnya.

"Kita biasanya enggak kebanjiran seperti ini, jadi sekarang kita sedang sangat repot harap maklum kalau kita tidak bisa melayani pertanyaan tentang klenteng ini," kata seorang petugas dari klenteng ini, yang keberatan disebutkan namanya.
Banjir di pekarangan dan bagian dalam klenteng ini tidak merata. Dari pagar menuju teras dari Wihara, banjir menggenang di atas mata kaki, sebagian air juga ikut membasahi lantai teras tersebut. Beberapa petugas tampak sedang sibuk bersih-bersih dan memindahkan beberapa barang, yang sekilas terlihat, sepertinya merupakan peralatan ibadah.
Memasuki ruangan utama di Wihara ini, air tampak hanya menyisakan bekas dan lantai pun hanya terlihat licin. Tapi pada tempat penyimpanan papan nama-nama orang yang telah wafat dan para leluhur, banjir menggenang hingga setengah betis orang dewasa.
"Semoga saat makin dekat dengan Imlek, banjirnya sudah surut," kata petugas tersebut kepada detikHOT (23/01/2014).
Lampu-lampu yang biasanya menyala dan jadi ornamen yang membuat klenteng tua ini tetap cantik pun mati. Semua listrik dipadamkan disini, untuk mencegah adanya kecelakaan.
Meski begitu, di tengah hilir mudiknya pengurus klenteng yang sedang sibuk bersih-bersih, juga di tengah lampu padam dan genangan air dimana-mana. Ada dua orang jemaat yang datang untuk sembahyang.
(ass/utw)











































