"Mereka sempat ragu dengan pertimbangan selera pasar," ujarnya kepada detikHOT. Namun, ia berhasil menyakinkan penerbitnya terutama setelah versi pendek dari komik tersebut memenangkan juara 1 di lomba komik Animonster.
Akhirnya, terbukti komik ini banyak disukai pembaca justru karena muatan lokal dan budayanya. Dibandingkan komik impor maupun terjemahan yang tidak ada unsur Indonesianya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saat ini, perkembangan komik lokal memang masih berlangsung agar bisa eksis. Tapi jumlahnya sudah seimbang dibanding komik impor. Serta penjualannya pun tak harus berada di toko buku besar.
Menurutnya akses melalui media sosial lebih memudahkan masyarakat untuk mendapatkannya. "Kondisi ini sudah jauh lebih baik daripada beberapa tahun sebelumnya," kata Is.
Sedangkan menurut Beng Rahadian dari penerbit Cendana Art Media yang mengkhususkan penerbitkan komik lokal juga mengatakan salah satu kendala adalah distribusi yang tidak menyebar.
"Itu adalah masalah komik di Indonesia. Ketika konsep, kemasan, tokohnya sudah bagus tapi karena distribusi yang enggak menyebar, jadinya enggak dikenal sama masyarakat," kata pendiri dari Akademi Samali ini.

Kelemahan ini yang membuatnya belajar dalam strategi pemasaran komik 'Setan Jalanan' karya Pepeng dan Haryadhi. Selain dipasarkan di toko buku, Beng juga menjualnya kepada para penggemar band Naif.
"Saya menjadikan komik satu paket dengan merchandise band. Komik menjadi satu kesatuan dengan Compact Disc (CD) juga."
Dengan cara begitu, para fansnya akan membeli musiknya band Naif sekaligus akan terbawa juga membeli komik 'Setan Jalanan'. Pihaknya, kata Beng, juga menyediakan paket Rp 120 ribu yang berisi komik perkenalan edisi O, kaos, soundtrack komik, striker, postcard, dan sebagainya.
(tia/utw)











































