"Saya sudah mulai menulis skenario sejak 2002, dan memakai tim dari 2004 hingga sekarang ini," kata Mia Amalia, 40 tahun kepada detikHOT di Kalibata City beberapa waktu lalu.
Saat itu, Mia mengatakan jumlah penulis skenario sangat sedikit dan masih terbatas jumlahnya. Ia memulai karirnya dengan sinetron drama musikal 'Impian Natasha' yang menampilkan penyanyi cilik Natasha sebagai pemeran utamanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di antara banyaknya naskah, Mia memiliki sebuah pengalaman unik. Lulusan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) jurusan Komunikasi Massa Universitas Indonesia ini menceritakan pada 2004 lalu, ia dipercaya menulis skenario sinetron 'Aku Ingin Hidup'.
Di situ menggambarkan kisah seorang wanita terkena penyakit kanker sampai harus menjalani proses kemoterapi. Saat itu, kata dia, pemeran prianya adalah Raffi Ahmad.
Dalam suatu adegan, ada cerita ketika peran utama di kemoterapi sampai rambutnya dibotak. Suatu hari, di awal produksi sang sutradaranya mengajaknya taruhan dengan apakah sebelum episode 10, ratingnya sudah bagus dan menjadi 10 tayangan yang paling banyak ditonton.

"Waktu itu saya iyakan, dan kalau kalah taruhan saya rela dibotak rambutnya," kenangnya.
Tak sampai 10 episode, ternyata sinetron tersebut sudah masuk 10 besar tayangan yang paling banyak ditonton. Mia pun kalah taruhan dan ketika dirinya sampai di kantor mau syukuran, sutradaranya sudah menyiapkan alat cukur rambut.
"Dibotakin habis sudah rambutnya, ha..ha..ha," ujarnya. Namun sayangnya yang dilakukan Mia ini justru dimarahi oleh putrinya.
"Katanya mama jangan botakin rambut lagi, aku malu ah punya mama rambutnya botak. Abis itu enggak mau lakukan hal itu," katanya.
Saran dari anaknya selalu diikuti oleh Mia. Keempat anaknya merupakan buah hati dalam hidupnya. Ini pula yang menjadi batasan dari Mia untuk membuat naskah skenario.
Menurutnya, ia selalu membuat cerita yang bisa ditonton oleh anak-anaknya. "Aku pernah bikin cerita tentang keluarga broken home, yang sampai adegan dipukul. Di cerita cuma didorong tapi sama sutradara sampai banyak adegan dipukul, diseretlah. Dari situ aku belajar banyak banget," katanya.
Hingga kini, batasannya adalah anak-anaknya. Ia harus membuat skenario yang kisahnya nyata, bisa dilihat dari kacamata anak-anak, dan mampu diselesaikan dalam batas usia mereka.
"Di ceritaku enggak akan ada sampai remaja yang racunin temannya atau hal-hal di luar batas. Masalah remaja juga harus diselesaikan secara remaja," kata penulis skenario serial 'Kepompong' ini.
(tia/ass)











































