Di Ajang Ini Seniman Ditantang Membuat Karya Baru, Bukan Produk Pasaran

Biennale Desain & Kriya Indonesia 2013 (1)

Di Ajang Ini Seniman Ditantang Membuat Karya Baru, Bukan Produk Pasaran

Astrid Septriana - detikHot
Jumat, 03 Jan 2014 08:00 WIB
Di Ajang Ini Seniman Ditantang Membuat Karya Baru, Bukan Produk Pasaran
Salah satu karya seniman di ajang ini. (Astrid Septriana/detikHOT)
Jakarta - Sangat jarang ada kegiatan seni yang secara langsung mengumpulkan berbagai cabangnya. Apalagi jika digelar dalam sebuah pameran kolektif para desainer dari berbagai disiplin berbeda. Mulai dari arsitektur, interior, mebel, produk, kriya, tektil, mode dan grafis.

Nah, di pergantian tahun 2013-2014 ini, untuk pertama kalinya diselenggarakan perhelatan desain dengan cakupan yang sangat luas bagi para orang kreatif di Indonesia.

Acara yang dinamakan Biennale Desain & Kriya Indonesia 2013 ini telah dibuka pada 19 Desember 2013 lalu dan akan diselenggarakan hingga 19 Januari 2013 mendatang, di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta Pusat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pameran ini juga dibuat semakin semarak dengan karya-karya seni instalasi berukuran besar yang merupakan proyek kolaborasi. Tak hanya itu, ada juga forum desain dan loka karya bersama para instruktur ternama.

Berikut detikHOT sajikan berita lengkap seputar perhelatan Biennale Desain & Kriya Indonesia 2013 yang diinisiasi oleh Direktorat Pengembangan Seni Rupa, Direktorat Jenderal Ekonomi Kreatif Berbasis Seni dan Budaya, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

***

Tema besar dari perhelatan perdana ini adalah GeoEtnik. Apa alasannya? Irvan A. Noe'man ketua kurator dan anggota steering commitee di acara ini, menyebut dua alasan. Pertama adalah karena di masa globalisasi dan era post-modern juga post-industry ini sudah tak ada lagi kebenaran tunggal.

Maka sebagai warga dunia, insan Indonesia juga sudah semestinya menyumbangkan sesuatu bagi budaya global. Tentunya dengan membawa identitas dari bangsa kita yang memiliki banyak etnis. Aspek-aspek lokal yang memperkaya dunia global, dijadikan roh dalam kegiatan Biennale ini.

Alasan kedua adalah karena Indonesia memiliki lebih dari 600 etnis. "Di Indonesia inspirasi karya bisa didapat dari berbagai etnis yang jumlahnya cukup besar bila dibandingkan dengan negara-negara yang lain," ujarnya pada Senin (18/12/2013).

Menurutnya potensi sangat besar ini bisa dikaji dan digali kembali untuk memperkaya pengembangan desain dan indsutri kreatif bangsa ini.



Teknis eksekusi konsep GeoEtnik pun cukup menarik. Para seniman tak hanya harus menginterpretasi kembali kekayaan ragam etnis, namun diminta pula melakukan pencarian hingga ke akar budaya.

Jadi bisa dibilang, karya yang ditampilkan disini tidak berbau unsur tradisi dari bentuk yang sudah ada atau yang telah banyak dilihat oleh masyarakat selama ini.

"Tradisi diambil sebagai akar, inspirasi atau esensinya. Apakah itu maknanya atau juga bentuknya dan digodok sedemikian rupa oleh para desainer untuk menciptakan sesuatu yang baru, yang bisa menginspirasi semua," kata Imelda Akmal, anggota steering commitee Biennale Desain & Kriya Indonesia 2013.

Hasil karya yang dipamerkan di Biennale ini diharapkan bisa dijadikan parameter inspirasi dan referensi baru bagi perkembangan desain di Indonesia.

"Apa yang disajikan dalam pameran ini 80 persennya adalah karya desain yang sifatnya lebih awal, yang belum masuk pasar. Sifatnya untuk memberikan inspirasi, bukan produk-produk yang sudah ada di pasar tapi produk yang kreasinya masih pada awal proses dan penelitian," ujar Irvan.

(ass/utw)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads